Oleh: malioboronline | Februari 5, 2009

Ani Tebu

my-sultan-for-president

Oleh: malioboronline | Februari 5, 2009

Malioboro

Malioboro adalah sebuah Jalan sepanjang tidak lebih dari 2 Kilo Meter yang membentang mulai dari persimpangan Rel Kereta Api Stasiun Tugu Yogyakarta diujung utara hingga pertigaan pojokan Gedung Agung diujung Selatan.

Malioboro adalah sebuah Jalan legendaris yang menjadi ikon Kota Yogyakarta dengan kehidupan kontras antara siang dan malamnya.

Saat siang hari, ruas Jalan Malioboro dipadati kendaraan para pelancong maupun warga Yogyakarta yang beraktifitas disekitar Jalan Malioboro, sementara dikanan-kiri jalan adalah toko-toko berbagai macam kebutuhan pokok, serta  sepanjang trotoar kaki limanya dijejali  lapak-lapak penjaja souvenir khas Yogyakarta, kemudian diujung selatannya ada pasar Beringharjo, tak ketinggalan sejumlah pusat perbelanjaan dan hotel yang mengguratkan kehidupan perekonomian warga Yogyakarta.

Sebaliknya pada malam hari, Malioboro dipenuhi aroma berbagai sajian kuliner yang menggugah selera, yang terhampar di ratusan tikar Warung lesehan dengan menu khas Gudeg Yogya, Bakmi Jawa, dan berbagai pilihan Ayam/ Burung dara/ Bebek bakar dan goreng. Keriuhan suasana lesehan akan ditimpali oleh alunan sejumlah seniman yang melantunkan musik dan lagu secara nomaden….dalam istilah kuno disebut sebagai “mbarang” atau pengamen.

Kerinduan anda akan Nostalgia masa lalu di Yogyakarta, kehausan anda akan info update Yogyakarta, akan anda temukan obatnya disini……

Oleh: malioboronline | Januari 26, 2009

AHA….!! Gong Xi Fa Choi

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Dahlan Iskan : Tionghoa, Dulu dan Sekarang (1)
Hollands Spreken, Peranakan, dan Totok

Waktu itu belum ada negara yang disebut Indonesia, atau Malaysia, atau Singapura. Tiga negara itu masih jadi satu kesatuan wilayah ekonomi dan budaya. Kalau ada orang dari Tiongkok yang mau merantau ke wilayah itu, apa istilahnya? Tentu tidak ada istilah “mau pergi ke Indonesia”. Atau “mau pergi ke Malaysia”. Mereka menyebutkan dengan satu istilah dalam bahasa Mandarin: xia nan yang. Artinya, kurang lebih, turun ke laut selatan.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Wilayah yang disebut “nan yang” itu bukan satu kesatuan dan bukan pula satu tempat tertentu. Kalau ditanya xia nan yang-nya ke mana? Barulah ditunjuk satu nama tempat yang lebih spesifik. Misalnya, akan ke Ji Gang (maksudnya Palembang). Mereka tidak tahu nama Palembang, tapi nama Ji Gang terkenalnya bukan main. Maklum, Ji Gang adalah salah kota terpenting yang harus didatangi misi Laksamana Cheng He (Cheng Ho). Ji Gang (artinya pelabuhan besar) memang jadi tempat tujuan utama siapa pun yang xia nan yang.

Kalau tidak ke Ji Gang, mereka memilih ke San Bao Long. Maksudnya: Semarang. Atau ke San Guo Yang, maksudnya Singkawang. Atau ke Ye Chen, maksudnya Jakarta. Atau Wan Long, maksudnya, Bandung. Mereka tidak tahu nama-nama kota di wilayah nan yang seperti nama yang dikenal sekarang. Semua kota dan tempat yang mereka tuju bernama Mandarin.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Gelombang xia nan yang itu sudah terjadi entah berapa ratus tahun lalu, bahkan ribu tahun lalu. Bahkan, saya tidak tahu mana nama yang digunakan lebih dulu: Palembang atau Ji Gang. Pontianak atau Kun Tian. Surabaya atau Si Shui. Banjarmasin atau Ma Chen. Migrasi itu berlangsung terus, sehingga ada orang Tionghoa yang sudah ratusan tahun di wilayah nan yang, ada juga yang baru puluhan tahun. Waktu kedatangan mereka yang tidak sama itulah salah satu yang membedakan antara satu orang Tionghoa dan Tionghoa lainnya.

Maka, masyarakat Tionghoa di Indonesia pernah terbagi dalam tiga golongan besar: totok, peranakan, dan hollands spreken. Yang tergolong totok adalah mereka yang baru satu turunan di Indonesia (orang tuanya masih lahir di Tiongkok) atau dia sendiri masih lahir di sana. Lalu ketika masih bayi diajak xia nan yang. Yang disebut peranakan adalah yang sudah beberapa keturunan lahir di tanah yang kini bernama Indonesia. Sedangkan yang hollands spreken adalah yang -di mana pun lahirnya- menggunakan bahasa Belanda, mengenakan jas dan dasi, kalau makan pakai sendok dan garpu, dan ketika Imlek tidak mau menghias rumah dengan pernik-pernik yang biasa dipergunakan oleh peranakan maupun totok..

Yang peranakan umumnya bekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Mereka berbahasa Jawa, Minang, Sunda, Bugis, dan bahasa di mana mereka tinggal. Mereka menyekolahkan anaknya juga tidak harus di sekolah Tionghoa.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Saya pernah menghadiri peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung di Hongkong yang diselenggarakan masyarakat Hongkong kelahiran Bandung. Meski sudah puluhan tahun bukan lagi WNI, tapi di pertemuan itu hampir semua bicara dalam bahasa Sunda.

Yang hollands spreken umumnya menjadi direktur dan manajer perusahaan besar yang waktu itu semuanya memang milik Belanda. Atau jadi pengacara, notaris, akuntan, dan profesi sejenis itu yang umumnya memang memerlukan keterampilan bahasa Belanda. Ini karena mereka harus melayani keperluan dalam sistem hukum yang berbahasa Belanda dengan aparatur yang juga orang Belanda.

Sedang yang totok, umumnya menjadi penjual jasa dan pedagang kelontong. Lalu jadi pemilik bengkel kecil. Lama-kelamaan mereka inilah yang memiliki pabrik-pabrik.

Karena kesulitan berbahasa (Belanda, Indonesia, maupun bahasa daerah) golongan totok menjadi “tersingkir” dari pergaulan formal yang umumnya menggunakan tiga bahasa itu.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Sebagai golongan yang terpinggirkan, orang totok harus bekerja amat keras untuk bisa bertahan hidup. Pada mulanya mereka tidak bisa bekerja di pabrik karena tidak “nyambung” dengan bahasa di pabrik. Mereka juga tidak bisa bertani karena untuk bertani memerlukan hak atas tanah. Mereka hanya bisa berdagang kelontong dari satu kampung ke kampung lain dan dari satu gang ke gang yang lain. Kalau toh mencari uang dari pabrik, bukan secara langsung namun hanya bisa berjualan di luar pagarnya: menunggu karyawan pabrik bubaran kerja.

Golongan peranakan lebih kaya, tapi status sosialnya masih kelas dua. Status sosial tertinggi adalah golongan hollands spreken. Sedangkan status sosial terendah adalah totok. Anak-anak golongan hollands spreken umumnya harus kawin dengan yang hollands spreken. Yang peranakan dengan peranakan. Demikian pula yang totok dengan totok. “Kalau kamu kawin sama anak totok, nanti kamu makan pakai sumpit,” kata-kata orang tua si hollands spreken. “Kalau kawin dengan peranakan, nanti kamu makan pakai tangan.”

Sedangkan orang totok biasa menghalangi anaknya kawin dengan hollands spreken dengan kata-kata, “Kamu nanti jadi orang yang tidak tahu adat.” Atau, “tidak mau lagi menghormati leluhur.”

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Yang hollands spreken umumnya menyekolahkan anaknya di sekolah berbahasa Belanda. Atau mengirim anak mereka ke Holland atau Jerman. Yang peranakan mengirim anaknya ke sekolah terdekat, termasuk tidak masalah kalau harus ke sekolah negeri. Yang totok menyekolahkan anaknya ke sekolah berbahasa Tionghoa. Semua itu terjadi dulu.

Bagaimana sekarang?

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI
Tionghoa Bersambut, Bagaimana Yin Ni Hua Ren?

Zaman berubah. Bahkan, setelah kejatuhan Orde Baru, perubahan itu begitu drastisnya, sehingga terasa terlalu tiba-tiba. Belum pernah orang Tionghoa mendapat posisi sosial-politik sehebat sekarang. Sampai akhir Orde Baru pun, kita tidak akan menyangka bahwa kita bisa berubah sedemikian hebat.

Memang terlalu banyak orang Tionghoa yang jadi ”tumbal” untuk perubahan itu. Yakni, mereka yang menjadi korban peristiwa Mei 1998 di Jakarta yang jadi awal ”zaman baru” bagi Tionghoa Indonesia itu.

Tapi, juga terlalu banyak untuk disebutkan jasa pejuang demokrasi seperti Amien Rais, Gus Dur, dan seterusnya, yang meski secara khusus perjuangan dan pengorbanan mereka tidak dimaksudkan untuk membela golongan Tionghoa, tapi hasil perjuangan itu secara otomatis ikut mengangkat posisi sosial-politik masyarakat Tionghoa menjadi sejajar dengan suku apa pun di Indonesia.

Kini, pada zaman baru ini, penggolongan lama ”totok, peranakan, dan Hollands spreken” sama sekali tidak relevan lagi. Bukan saja tidak relevan, bahkan memang sudah hilang dengan sendirinya. Kawin-mawin antartiga golongan itu sudah tidak ada masalah sama sekali. Status sosial tiga golongan tersebut juga sudah tidak bisa dibedakan. Jenis pekerjaan dan profesi di antara mereka juga sudah campur-baur. Membedakan berdasar di mana sekolah anak-anak mereka juga sudah tidak berlaku.

Berkat demokrasi, pembedaan berdasar apa pun tidak relevan lagi. Bahkan, pembedaan model lama antara hua ren dan penti ren tidak boleh lagi. Tapi, bukan berarti tidak ada masalah. Misalnya, dalam zaman baru ini, bagaimana harus mengidentifikasikan dan menyebut hua ren?

Saya pernah menghadiri satu seminar yang diadakan INTI di Jakarta. Dalam forum itu, antara lain, disinggung soal bagaimana harus menyebut orang Tionghoa di Indonesia dalam bahasa Mandarin. Kalau panggilan nonpribumi sudah tidak relevan dan seperti kelihatan antidemokrasi, lantas kata apa yang bisa dipakai untuk menyebutnya dalam bahasa Mandarin?

Dalam bahasa Indonesia, semua sudah seperti sepakat bahwa sebutan Tionghoa adalah yang paling menyenangkan. Tionghoa sudah berarti ”orang dari ras cina yang memilih tinggal dan menjadi warga negara Indonesia”. Kata Tionghoa sudah sangat enak bagi suku cina tanpa terasa ada nada, persepsi, dan stigma mencina-cinakan. Kata Tionghoa sudah sangat pas untuk pengganti sebutan ”nonpri” atau ”cina”.

Saya sebagai ”juawa ren” (meski xian zai wo de xin shi hua ren de xin) semula agak sulit memberi penjelasan kepada pembaca mengapa menyebut ”cina” tidak baik? Apa salahnya? Luar biasa banyaknya pertanyaan seperti itu. Terutama sejak Jawa Pos Group selalu menulis Tionghoa untuk mengganti kata nonpri atau cina.

Jawa Pos memang menjadi koran pertama di Indonesia yang secara sadar mengambil kebijaksanaan tersebut. Memang ada yang mencela dan mencibir bahwa Jawa Pos tidak ilmiah. Juga tidak mendasarkan kebijakan itu pada kenyataan yang hidup di masyarakat, yakni bahwa semua orang sudah terbiasa menyebut kata ”cina”. Mengapa harus diubah-ubah?

Saya tidak bisa menjawab dengan alasan bahwa kata cina itu terasa ”menyudutkan” dan ”menghinakan”. Mereka akan selalu bilang bahwa ”kami tidak merasa seperti itu”. Atau, mereka akan mengatakan ”Ah, itu mengada-ada”. Bahkan, ada yang bilang, ”Kok kita tidak ada yang tahu ya bahwa sebutan cina itu melecehkan”.

Memang, kenyataannya sebenarnya seperti itu. Tapi, juga tidak mengada-ada bahwa golongan Tionghoa merasa seperti itu. Setidaknya sebagian di antara mereka yang lama-lama menjadi mayoritas di antara mereka. Yakni, sejak awal Orde Baru, sejak ada desain dari penguasa waktu itu bahwa penyebutan kata ”cina” bukan lagi untuk identifikasi ras saja, tapi juga untuk ”menyudutkan” ras tersebut. Yakni, untuk ”mencina-cinakan” mereka dalam konotasi yang semuanya jelek.

Tentu, tidak semua orang Tionghoa tahu itu. Bahkan, banyak orang Tionghoa yang mengatakan ketika dipanggil ”cina” juga tidak merasa apa-apa. Lebih dari itu, kata Tionghoa berasal dari bahasa daerah di Provinsi Fujian-Guangdong dan sekitarnya.

Lalu, bagaimana dengan orang ”cina” yang dulunya berasal dari luar wilayah itu? Tapi, adanya latar belakang pencina-cinaan itulah akhirnya yang membuat umumnya orang Tionghoa dari mana pun asal-usulnya dulu ikut tahu dan merasakan penyudutan tersebut.

Lalu, bagaimana saya bisa menjelaskan kepada pembaca koran Jawa Pos Group agar bisa menerima istilah Tionghoa sebagai pengganti ”cina”? Terutama bagaimana saya bisa meyakinkan para redaktur dan wartawan di semua koran Jawa Pos Group (tentu tidak mudah karena kami memiliki sekitar 100 koran di seluruh Indonesia) yang semula juga sulit diajak mengerti?

Untuk ini, saya harus mengucapkan terima kasih kepada pemimpin INTI, khususnya Eddy Lembong yang sangat cerdas itu. Entah bagaimana, Eddy Lembong bisa menemukan adanya salah satu ayat dalam ajaran Islam yang kalau diterjemahkan artinya begini: ”Panggillah seseorang itu dengan panggilan yang mereka sendiri senang mendengarnya”.

Ini dia. Saya dapat kuncinya. Saya dapat magasin berikut pelurunya. Maka, saya pun menjelaskan bahwa tidak ada orang ”cina” yang tidak suka kalau dipanggil Tionghoa. Sebaliknya, banyak orang Tionghoa yang tidak senang kalau dipanggil ”cina”. Dengan logika itu, apa salahnya kita menuruti ayat dalam ajaran Islam tersebut dengan memberikan panggilan yang menyenangkan bagi yang dipanggil?

Mengapa kita harus memanggil ”si gendut” untuk orang gemuk atau ”si botak” terhadap orang yang tidak berambut, meski kenyataannya demikian? Atau, kita memanggil dengan ”si kerbau” meski dia memang terbukti bodoh?

Kini, setelah lebih dari delapan tahun Jawa Pos Group menggunakan istilah Tionghoa, rasanya sudah lebih biasa. Juga lebih diterima.

Yang masih sulit adalah justru bagaimana orang Tionghoa Indonesia sendiri menyebut dirinya dalam bahasa Mandarin? Apakah masih ”women zhong guo ren”? Atau ”hua ren”? Atau ”Yin Ni Hua Ren”? Lalu, bagaimana orang Tionghoa menyebut Tiongkok dalam pengertian RRC? Masihkah harus menyebutnya dengan ”guo nei”?

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Kiprah Etnis Tionghoa di Jalur Politik Tanah Air
Tersebar, Belum Strategis Bikin Partai

Sejarah perpolitikan Indonesia tak pernah sepi dari kiprah politisi Tionghoa. Mulai mereka yang bergabung ke partai lain hingga yang mendirikan partai sendiri. Efektifkah jika etnis Tionghoa bikin partai sendiri?

Michael Backman, kolumnis Australia, pernah merilis hasil penelitian tentang kapitalisasi pasar 300 konglomerat Indonesia sekitar tiga tahun sebelum krisis 1998. Menurut dia, komunitas Tionghoa yang hanya dua persen di antara total populasi, ternyata, menguasai 73 persen kapitalisasi pasar di Indonesia.

Menurut sensus kependudukan Badan Pusat Statistik pada 2000, etnis Tionghoa menempati ranking 15 di antara 101 kelompok etnis di Indonesia. Cacah jiwa etnis Tionghoa ketika itu hanya 1,738 juta jiwa atau sekitar 0,86 persen di antara total 201,092 juta jiwa penduduk Indonesia.

Tapi, hasil sensus tersebut dibantah pakar studi etnis Tionghoa Prof Leo Suryadinata. Dalam jurnal Institute of South East Asian Studies (ISEAS), pengajar Universitas Rajaratnam di Singapura itu memperkirakan, jumlah warga etnis Tionghoa di Indonesia 1,45 persen-2,04 persen di antara total populasi. Artinya, jumlah etnis Tionghoa di Indonesia berkisar 3 juta hingga 4 juta jiwa. Jumlah tersebut menempatkan etnis Tionghoa pada peringkat 10 terbanyak di antara kelompok-kelompok etnis di Indonesia.

Sensus tersebut juga memperlihatkan populasi etnis Tionghoa yang berhasil menduduki tempat cukup signifikan dalam sosiologi masyarakat di 11 provinsi. Ketika itu, jumlah etnis Tionghoa lebih dari lima persen penduduk Jakarta, terbanyak kedua setelah etnis Melayu di Bangka-Belitung, dan ketiga terbanyak setelah etnis Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat.

Ketika era reformasi bergulir, sejumlah warga etnis Tionghoa mulai terjun ke politik dengan menjadi anggota legislatif maupun eksekutif. Pada 1999, tercatat 150-an calon anggota legislatif dari etnis Tionghoa. Ketika itu, lima anggota DPR dan tujuh anggota MPR yang terpilih berasal dari etnis Tionghoa.

Pada Pemilu 2004, jumlahnya meningkat, yaitu tercatat lebih dari 200 caleg Tionghoa. Namun, hanya segelintir yang terpilih. Ironisnya, tak satu pun etnis Tionghoa yang terpilih sebagai anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Namun, sejumlah jabatan eksekutif mulai diraih etnis Tionghoa. Mulai Kwik Kian Gie yang diangkat sebagai menteri PPN/kepala Bappenas di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) hingga Mari Elka Pangestu di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pada 2007, Basuki Tjahaja Purnama juga terpilih sebagai bupati Bangka. Setahun kemudian, Christiandy Sanjaya terpilih sebagai wakil gubernur Kalimantan Barat.

Peran yang lebih strategis dalam politik juga telah diupayakan melalui pendirian sejumlah partai politik berbasis etnis Tionghoa. Pada awal reformasi politik 1999, Partai Pembauran Indonesia (Parpindo) dideklarasikan sejumlah tokoh Tionghoa, antara lain, pengusaha Yusuf Hamka, Junus Yahya, Budi Santoso, Ramli Salim, Juniar Zainuddin, Dih Liang, dan Verawaty Fajrin.

Disusul kemudian deklarasi Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti) oleh Lius Sungkharisma, Gunawan Tjahjadi, Ponijan, dan Cecep Adi Saputra. Selain itu, Partai Bhineka Tunggal Ika (PBI) yang didirikan Oe Nang Pin, I Fung, Yang Thai Sung, dan Lie Kaoy Sien. Hasilnya, hanya PBI yang lolos verifikasi Departemen Hukum dan HAM. Partai itu pun hanya mampu menempatkan L.T. Santoso di kursi DPR dari daerah pemilihan Kalimantan Barat.

Menurut logika politik, pendirian partai politik berbasis etnis Tionghoa memang kurang prospektif. Kegagalan pendirian partai politik berbasis etnis Tionghoa tak dapat dilepaskan dari sosiologi dan pandangan politik etnis Tionghoa yang heterogen. “Belum lagi dari segi agama. Ada yang beragama Konghucu, Tao, Buddha, Kristen, Katolik, bahkan Islam. Belakangan, ada lagi pembagian berdasar kota tempat tinggal, kata Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jakarta Benny G. Setiono.

Ketika Muslim Tionghoa Merayakan Imlek
Tetap Beri Angpau, Ganti Hidangan Babi dengan Sapi

Warga Tionghoa yang beragama Islam tetap merayakan tradisi Imlek. Mereka membuat kue nian gao, bikin pohon meihwa, serta bagi-bagi angpau. Adakah ritual yang diganti?

Novita Amelilawaty, Jakarta

Bagi muslim Tionghoa, tradisi Imlek tak akan pernah ditinggalkan. Mereka tetap berbondong-bondong belanja untuk kebutuhan Imlek. Misalnya, yang dilakukan Julian Latif dan Hariyanto. Mereka adalah pengusaha yang sama-sama bergabung di Muslim Tionghoa dan Keluarga (Mustika).

Julian mengatakan, secara garis besar, tidak ada perbedaan dalam merayakan Imlek ketika dirinya masih memeluk Buddha dan sesudah menjadi muslimah. “Saya dibesarkan di keluarga Tionghoa asli. Jadi, sudah mengenal ritual-ritual yang dilakukan Ama (nenek) dan Akung (kakek),” kenang Julie -sapaan akrabnya- ketika ditemui di toko IT miliknya di Mangga Dua Mall, Jakarta. Wanita yang masuk Islam sejak SMA atau pada 1989 itu mengaku, perbedaan antara perayaan Imlek dulu dan sekarang hanya pada ritual sembahyang di kuil.

“Sejak masuk Islam, saya tidak pernah lagi ke kuil,” kata Julie. Tetapi, dia masih berdoa di meja abu tempat keluarga meletakkan abu jenazah leluhur. “Berdoa dan berziarah kan tidak dilarang Mbak, tak harus di kuil,” lanjutnya. Ada beberapa perayaan lain yang masih diikuti Julie, seperti cheng beng (untuk orang mati), malam che it, malam cap go, serta ziarah ke makam nenek, kakek, dan ayahnya. Ritual, seperti sembahyang di Ching The Yen, tuang minyak, dan bakar hio, sudah ditinggalkan.

Selain itu, Julie dan anaknya senang berbelanja pohon meihwa dan amplop untuk angpau. Julie menceritakan, tradisi angpau tak pernah dia tinggalkan, meski sudah beragama Islam. “Saya sediakan untuk anak-anak yang datang ke rumah,” katanya, kemudian tersenyum. Bunga-bunga sedap malam, pohon jeruk, dan anggrek tak luput dari incarannya. “Saat ini, rumah saya mulai dihiasi pohon-pohon dan sedap malam,” ujarnya.

Lain yang dilakukan Julian, lain pula yang dilakukan Hariyanto. Pria bernama asli Liem Tjeng Lie itu adalah pengusaha EO dan biro travel umrah dan haji di Jakarta.

“Apa yang saya lakukan di tahun baru Imlek mungkin dilakukan juga oleh umat Islam Tionghoa lainnya,” kata Hariyanto.

Ketika ditemui Indo Pos (Jawa Pos Group), pria beranak dua itu tengah berbelanja kebutuhan Imlek di Grand Indonesia Shopping Town Jumat lalu (23/1). Hariyanto membeli sekeranjang penuh buah-buahan manisan khas Imlek, seperti ceremai merah Singapura, jeruk linkit/kitna, dan plum bulu. “Ini yang chen liang ji, rasanya enak sekali,” lanjutnya.

Hariyanto pernah memeluk tiga agama sebelum mantap di Islam pada 1998. Dia pernah memeluk Buddha, Kristen, dan Katolik. Saat memeluk tiga agama tersebut, Hariyanto tetap mengikuti ritual Imlek, mulai sembahyang di kuil sampai menyediakan makanan dan minuman khas Imlek. Tetapi, setelah memeluk Islam, dia tak lagi ke kuil.

Kegiatan yang paling menyibukkan selama Imlek bagi Hariyanto adalah menyiapkan menu khas Imlek. Makanan yang selalu ada ketika masih beragama nonmuslim adalah pindang bandeng; masakan kesukaan leluhurnya seperti babi kecap, dan hoysom; serta buah-buahan seperti anggur, apel, dan jeruk. Tak ketinggalan manisan buah yang manis-manis dan berwarna merah. Untuk minuman, di rumah Hariyanto selalu tersedia kopi, teh, arak, angchu (wine), dan rokok.

Namun, sejak memeluk Islam, Hariyanto merombak total menu makanan dan minuman Imlek-nya. Misalnya, babi kecap diganti dengan semur daging sapi atau kerbau, sesuai shio tahun. Lalu, anggur/wine yang mengandung alkohol diganti dengan sirup stroberi atau ceri merah. Begitu pula dengan arak China diganti dengan sirup leci. “Secara penampilan sama warnanya, tetapi halal,” kata Hariyanto. Kue-kue yang tersedia serbamanis, termasuk kue keranjang yang direbus atau digoreng dengan telur. “Kue itu wajib hadir di rumah kami karena simbol kemakmuran, manis,” lanjutnya.

Membeli baju baru juga merupakan tradisi keluarga Hariyanto pada malam Imlek. Ketika semua orang yang murni merayakan Imlek sembahyang ke kuil, Hariyanto justru shopping bersama anaknya.

Sebelum tidur, Hariyanto memasukkan uang lima ribuan dan lima puluh ribuan ke dalam amplop merah. “Isi angpau,” ujarnya. Angpau itu diberikan kepada keponakan-keponakannya yang berkunjung. Satu yang pertama diminta anak-anaknya adalah angpau di pagi hari. “Kalau sudah salat Subuh, langsung tagih angpau,” tuturnya, kemudian tertawa.

Sama seperti muslim Tionghoa lainnya, di Tahun Kerbau ini, Hariyanto berharap yang manis-manis untuk kehidupannya kelak. “Semoga usaha saya lancar, diberikan kemakmuran, dan banyak rezeki,” harapnya. Dia yakin doanya akan terkabul karena dirinya sudah menyebutkan permohonan tiga kali. “Permohonan di tahun baru Masehi, tahun baru Islam, dan nanti di tahun baru Imlek,” kata Hariyanto, kemudian tersenyum.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Shio Kerbau, Obama Dinaungi Keberuntungan
Akankah tahun kerbau ini membawa perubahan? Dari kacamata peramal Fengshui Tiongkok, tahun ini akan sama saja dengan tahun sebelumnya. Itu karena tak ada api, satu dari lima elemen mistis pembentuk alam semesta (logam, kayu, air, api, dan bumi) atau disebut Wu Xing. Padahal, menurut mereka, api adalah faktor esensial untuk mengatasi krisis finansial global yang kini terjadi.

”Api adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Tanpa itu, pasar kekurangan momentum,” kata Raymond Lo, master feng shui Hongkong.

Peramal Tiongkok juga melihat adanya gejala resesi makin parah, pengangguran makin tinggi, saham kian anjlok dan harga rumah akan makin jatuh. Selain bidang ekonomi, juga ada prediksi-prediksi lain, yakni, akan terjadi gempa bumi dahsyat, hubungan Amerika Serikat dan Rusia makin runcing dan sejumlah masalah akan mendera presiden baru Amerika Serikat, Barack Obama. Kebetulan, Obama lahir pada tahun kerbau. Dan, dia kini menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, angka yang menyiratkan ketidakberuntungan. Di Tiongkok, angka empat sama artinya dengan kematian.

Namun, jangan buru-buru panik dulu. Tahun kerbau ini juga menyiratkan keberuntungan dan harapan. Itu karena kerbau memiliki sifat gigih dan bersemangat baja. Jadi, separah apapun krisis yang kini melanda, bila semangat masih membuncah, bakal teratasi. Bila berkaca pada sejarah, tahun 1949 juga adalah tahun kerbau.

Sebelum tahun itu dunia dihinggapi krisis lebih parah, yakni perang dunia. Tahun 1949 menjadi titik balik dunia. Tahun itu terjadi sejumlah peristiwa penting yakni berdirinya NATO, Jerman terbelah jadi dua, Republik Rakyat Tiongkok berdiri. Tahun itu pula Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Vietnam juga merdeka pada tahun tersebut. Tahun 2009 berpeluang mengulang sejarah itu.

Apalagi, para pemimpin top dunia tercatat lahir pada tahun kerbau. Antara lain, Napoleon Bonaparte, Hitler, Saddam Hussein, Putri Diana, Margaret Thatcher, dan Richard Nixon.

Dan terakhir, Barack Hussein Obama, presiden baru Amerika Serikat berdarah Afrika Amerika yang dengan lantang menyuarakan perubahan. Mampukah? Waktu yang akan membuktikannya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Jika Imlek Hujan, Rezeki Lebih Lancar?
Apa makna perayaan Imlek bagi para tokoh Tionghoa yang juga pengusaha sukses berikut ini? Dirut PT Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan selalu merayakan Imlek seperti halnya tahun baru Masehi dan Idul Fitri.

“Wong seneng-seneng aja kok,” tutur Irwan. Ingatannya lantas terbawa ke tahun 1965. Ketika itu umurnya sekitar 18 tahun. “Waktu itu saya sering dipanggil Cino. Itu jelas-jelas perlakuan diskriminatif. Tapi, sekarang terjadi perubahan luar biasa,” ujarnya.Bahkan, papar dia, saat ini bukan hanya etnis Tionghoa yang merayakan Imlek. Semua orang ikut merayakan sesuai dengan tradisi Tionghoa. “Coba pergi ke Jawa, yang main barongsai ya orang Tionghoa, Jawa, Batak. Menurut saya, itu kemajuan yang fundamental,” terangnya.

Alim Markus lain lagi. Menurut Presiden Direktur Grup Maspion tersebut, Imlek berarti harus kembali bekerja. Itulah hakikat sejati Imlek yang harus diresapi oleh seluruh masyarakat etnis Tionghoa. Dengan begitu, pergantian tahun dimaknai sebagai kehidupan yang lebih baik daripada tahun sebelumnya. Di Indonesia, Imlek dimaknai dengan lebih mistik. Jika terjadi hujan, berarti kehidupan atau rezeki tahun depan akan lebih baik. Kalau tidak ada hujan, berarti seret. “Padahal, Imlek selalu bertepatan dengan musim penghujan, berarti untung terus ha..haa..,” ucapnya.

Dia menyatakan, bagi Indonesia, dilegalisasinya perayaan Imlek merupakan sebuah anugerah nyata.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Para Peramal Bicara Peruntungan di Tahun Kerbau
Waspadai Binatang Pembajak yang Bisa Memberontak

Tahun Tikus berakhir hari ini, Tahun Baru Imlek 2560. Setelah ”era” tikus, kini giliran masa kerbau. Aswin Wibisono dan Suhu Jimmi Kurniawan punya pendapat soal tahun anyar tersebut.

IGNA ARDIANI ASTUTI

KERBAU yang ”merajai” tahun ini dipercaya sebagai kerbau tanah. Secara garis besar, mereka yang dinaungi shio tersebut sangat tulus hati, dapat diandalkan, bertanggung jawab, dan pekerja ulet. Pembawaannya pun tenang dan sabar. Meski terlihat kalem, sekali dibuat jengkel, si kerbau bisa mengamuk habis-habisan.

Tahun Kerbau tanah yang berlangsung mulai 26 Januari 2009 sampai 13 Februari 2010 itu, menurut Aswin Wibisono, awalnya memang terlihat tenang seperti sifat hewan pembajak itu. Namun, karena banyaknya kejadian-kejadian yang merangsang, si kerbau pun berontak.

Hal tersebut ditandai dengan pergolakan di mana-mana. Mulai demo, kerusuhan, hingga saling menjelek-jelekkan satu sama lain. ”Pergolakan itu terjadi akibat suasana politik yang tidak baik. Terutama saat pemilu nanti,” kata Aswin. Celakanya, kondisi politik yang carut-marut tersebut berdampak buruk terhadap rakyat kecil. Ekonomi terguncang.

Guncangan itu memang tak berlangsung lama. Suhu Jimmi Kurniawan mengatakan, beberapa bulan setelah pemilu, kondisi ekonomi bangsa perlahan-lahan membaik. ”Kisarannya sekitar Agustus,” ujar pria 63 tahun tersebut.

Membaiknya ekonomi itu diikuti iklim usaha yang makin kondusif. Karena tahun ini elemennya tanah, usaha-usaha yang masuk unsur kayu bakal moncer. Elemen kayu berjaya. Sebab, kayu merupakan elemen yang menguasai tanah. Usaha yang berkategori kayu itu, misalnya, tekstil, kertas, dan surat kabar. Mereka yang menekuni usaha ekspor dan impor juga menuai hasil yang memuaskan.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Unsur tanah yang kurang baik berpengaruh terhadap unsur besi. Besi pun ikut tidak baik. Karena itulah, bidang usaha yang termasuk dalam elemen besi akan tersendat-sendat. Misalnya, bank, asuransi, saham, mesin, alat berat, dan elektronik.

Sesuai dengan sifat kerbau yang pekerja keras dan ulet, mereka yang rajin akan banyak mendapat limpahan rezeki. ”Tahun ini adalah tahun pekerja. Kerbau yang malas tentu tidak akan mendapat apa-apa,” ungkap Aswin.

Soal kondisi alam, Aswin maupun Jimmi mengatakan, beberapa bencana masih akan mewarnai sepanjang tahun ini. Misalnya, gempa bumi dan tanah longsor. Namun, korban tidak begitu banyak. Menurut prediksi Jimmi, bencana paling parah terjadi pada September atau Desember. ”Gempa bumi,” ucapnya. Yang juga perlu diperhatikan, akan ada banyak penyakit yang melanda tahun ini. Terutama, penyakit yang berkaitan dengan saluran cerna.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Imlek Masih Ikut Orang Tua
Leony Vitria Hartanti mengaku tak punya tradisi khusus pada tahun baru Imlek. Bintang sinetron yang juga mantan personel Trio Kwek Kwek itu mengatakan, dirinya tidak mempersiapan apa-apa menjelang Imlek karena semua ditangani orang tua.

Meski sudah beranjak dewasa dan berpenghasilan sendiri, Leony merasa setiap tahun, setiap Imlek, belum ada perubahan. Masih sama dengan ketika dia kanak-kanak. ”Semua sudah dipersiapkan’Papa. Makanya aku’nggak pernah sibuk setiap perayaan Imlek,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos Rabu pekan lalu (21/01).

Tradisi juga membuatnya tidak repot menyiapkan uang angpao untuk dibagikan kepada keluarga dan saudara. Sebab, dia belum menikah. Aturannya, yang boleh memberi hanya yang sudah menikah. ”Paling aku cuma kebagian membagikan angpao dari Papa karena kata Papa yang memberikan angpao itu hanya yang sudah nikah,” jelas perempuan kelahiran 20 September 1987 itu.

Apa harapan dan doa Leony dalam memasuki tahun’kerbau merah sekarang ini? ”Sebenarnya kalau berharap-berharap gitu, aku sama keluarga tak pernah mengikutinya. Cuma yang namanya harapan pasti mau yang terbaik ya,” jawab mantan kekasih Eross Chandra, gitaris Sheila On 7, itu.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Praktik Diskriminasi Sudah Selesai
Ketika menjadi presiden menggantikan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Itu terjadi pada 17 Februari 2002. Berikut petikan wawancara dengan Megawati.

—–

Bagaimana Anda melihat perayaan Imlek tahun ini?

Menurut saya, perayaan Imlek tahun ini tidak seramai dan semeriah tahun lalu. Mungkin karena semua orang tahu, saat ini keadaan ekonomi masyarakat terganggu dengan masalah ekonomi nasional dan global. Namun, kondisi ini hendaknya tidak mengurangi makna perayaan tahun baru Imlek itu sendiri.

Apa pertimbangan Anda ketika memutuskan Imlek sebagai hari libur nasional?

Pertama, karena larangan perayaan Imlek telah dicabut. Pertimbangan berikutnya, lahir dari harapan masyarakat yang ingin agar ada hari libur untuk merayakan Imlek. Sebagai bangsa yang menjunjung keberagaman serta mengingat cukup banyaknya masyarakat etnis Tionghoa, sudah selayaknya kita memberikan kesempatan untuk merayakan tahun baru Imlek, seperti halnya kita memberikan kesempatan untuk merayakan tahun baru Masehi, tahun baru Hijriah maupun tahun baru Galungan.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Menurut Anda, apakah praktik diskriminasi negara terhadap etnis Tionghoa saat ini sudah selesai?

Secara normatif, hal ini sudah selesai. Kita sudah memiliki UU Kewargenegaraan yang cukup jelas serta peraturan lain yang memberikan kesempatan sama kepada seluruh warga negara Indonesia, termasuk di dalamnya yang beretnis Tionghoa. Namun, memang masih ada kendala kultural di lapangan. Tidaklah mudah mengubah kerangka berpikir masyarakat yang selama ini sudah dicekoki ketakutan untuk menghargai keberagaman selama 30 tahun lebih. Ini menjadi tantangan bagi kita semua, bagaimana menjadikan keberagaman etnis, adat, ataupun agama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai hal yang mempersatukan kita dan mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Apa harapan Anda terhadap etnis Tionghoa di Indonesia?

Kontribusi yang saya harapkan, impikan dari seluruh bangsa Indonesia, tidak hanya pada etnis Tionghoa adalah suatu hal yang amat penting. Yaitu, bangsa Indonesia bisa memperbaiki mental diri masing-masing untuk bisa percaya. Mempunyai keyakinan bahwa bangsa Indonesia bisa maju ke depan, bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Bisa sekuat dan sekukuh bangsa lain serta mempunyai harga diri dan martabat sebagai sebuah bangsa besar.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Saya Keturunan Tan Kim Han
Di beberapa kesempatan, Gus Dur kerap mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki darah Tionghoa. Meski demikian, dia menegaskan, pembelaannya terhadap warga kelompok minoritas itu selama ini bukan semata-mata karena faktor keturunan.

Menurut Gus Dur, nenek moyangnya memang asli dari Tiongkok. Yaitu, duta besar Tiongkok di masa Kerajaan Majapahit. Namanya Tan Kim Han. Saat tinggal di tanah Jawa, dia menikah dengan Tan A Lok yang merupakan saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak putri Campa. Yaitu, seorang putri dari Tiongkok yang merupakan salah seorang selir Raden Brawijaya V. “Tan Kim Han ini dikenal sebagai orang Tiongkok yang rajin ibadah,” ujar Gus Dur kepada Jawa Pos.

Karena itu, menurut mantan presiden ke-4 RI itu, oleh masyarakat, Tan Kim Han diberi panggilan Syekh Abdul Qodir Al-Shini. Berdasar penelitian seorang peneliti Prancis Louis-Charles Damais, Tan Kim Han diidentifikasi sebagai seorang tokoh yang makamnya ditemukan di Trowulan, Jawa Timur.

“Kalau diurut-urut lagi, sampai di Sunan Ampel yang salah satu keturunannya adalah Kiai Hasyim Asyari, kakek saya. Tapi, ya itu tadi, sudah bercampur-campur dengan Arab dan India,” tambah pendiri PKB tersebut.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Meski demikian, lanjut Gus Dur, bukan darah Tionghoa yang membuat dirinya begitu getol membela kelompok minoritas. Namun, lebih karena komitmennya menegakkan pluralisme di Indonesia. “PKI kan juga saya bela, TAP MPR tentang PKI juga sudah saya cabut,” jelasnya.

Ketika menjadi ketua umum PBNU, Gus Dur pernah membela pasangan Tionghoa yang ngotot menikah secara Konghucu. Padahal, saat itu pemerintah belum mengakui Konghucu sebagai agama.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

BONSAI SAKURA trend Imlek 2009
Resminya, perayaan Imlek baru akan digelar dua pekan ke depan, tepatnya pada 26 Jnauari. Namun antusiasme warga etnis Tionghoa menyambut datangnya hari kemenangan membuat suasana Tahun Baru China kali ini semarak belum waktunya.

Terbukti pedagang pernak – pernik Imlek mulai menjamur di kawasan Pasar Lama Kota Tanggerang, sejak dua pecan mnjelang perayaan Imlek yang jatuh tepat tanggal 26 Januari 2009 ini.

Menyambut Imlek, warga etnis Tionghoa mulai gencar untuk berburu pernak – pernik yang bernuansa merah untuk Imlek. Mulai dari kertas angpau, lampion, patung kucing hoki, hio, bonsai sakura, kaktus, dll.

Dan yang paling diburu oleh warga etnis Tionghoa adalah Bonsai Sakura. Pasalnya Imlek tahun ini favoritnya adalah Bonsai sakura, meski harganya yang terbilang cukup mahal, dalam sehari aksesori Imlek yang didesain menyerupai pohon Natal ini bisa terjual anatara 10 -20 pohon. Bonsai Sakura yang paling diminati adalah yang berukuran satu meter, yang harganya berkisar Rp. 500.000.

Peminat yang begitu besar terhadap Bonsai Sakura membuat pedagang kewalahan menanganinya. Karena para pembeli tahun ini lebih terfokus pada bonsai sakura, jika mereka telah membeli bonsai sakura, biasanya mereka tidak akan membeli pernak – pernik lainnya yang berhubungan Imlek. Mereka lebih terfokus untuk menghisa Bonsai, Ujar Hendrik (Pedagang Pernak – pernik Imlek)

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Senin, 26 Januari 2009 00:42 WIB
Tahun Baru Imlek di Beijing Diramaikan Petasan dan Kembang Api
REUTERS
BEIJING–MI: Suasana Beijing sejak sore hingga malam hari “diramaikan” oleh suara petasan dan kembang api yang memancar ke udara sehingga membuat suasana malam menjadi lebih ramai sesaat menjelang Tahun Baru China atau Imlek.

Wartawan Antara, di Beijing, Minggu (25/1), melaporkan sejumlah warga sejak pagi hingga malam hari tidak henti-hentinya menyalakan petasan dan kembang api beraneka rupa, suara dan warna sehingga banyak warga yang terkejut hingga terpesona.

Suara petasan tampak tidak henti-hentinya terdengar di sejumlah wilayah Beijing, demikian pula kembang api yang berwarna-warna dan menimbulkan suara keras juga tampak terus mengudara sehingga tampak indah menembus kegelapan malam.

Cuaca dingin minus sembilan derajat Celcius tampak tidak membuat warga Beijing mengurungkan niatnya untuk menyalakan petasan dan kembang api di halaman apartemen masing-masing atau ditepi jalan raya.

Sejumlah pedagang petasan yang mendirikan kios semipermanen pun tampak ramai mengais rejeki mengingat jumlah pembeli yang datang nyaris tidak henti-hentinya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

“Dari pengalaman tahun-tahun lalu, masyarakat biasanya akan ramai membeli petasan dan kembang apa pada malam Imlek. Hal ini juga dialami tahun ini,” kata Zhou yang berdagang petasan di wilayah Tuan Jie Hu.

Menurutnya, sekalipun penjualan meningkat tapi dirinya tidak menaikkan harga karena harga yang dijual sudah ditentukan dari pabrik dan semua pedagang hampir seluruhnya menjual dengan harga sama untuk jenis sama.

Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari 20 yuan (sekitar Rp32.000) hingga 6.800 yuan (sekitar Rp10,88 juta).

Murah mahalnya harga petasan dan kembang api yang dijual tergantung dengan lama atau sebentarnya suara yang dihasilkan. “Makin lama suara petasan atau kembang api yang dihasilkan maka makin mahal harga jualnya,” katanya berpromosi.

Sekalipun harga petasan dan kembang api cukup mahal, ia mengaku, warga yang membeli dengan harga mahal cukup banyak.

Sementara suasana Beijing tampak lebih sepi dibanding hari-hari biasa mengingat banyak warga setempat yang telah meninggalkan ibukota China itu untuk “mudik” ke kampung halamannya masing-masing.

Jalan Dongzhimenwai Dajie yang biasanya ramai dan padat dengan kendaraan yang melintas, pada malam Imlek tampak sepi.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Demikian juga kereta api bawah tanah (subway) yang pada hari Minggu biasanya padat, pada malam Imlek juga sepi dari penumpang.

Beberapa mal yang sehari sebelumnya tampak ramai dipadati warga untuk belanja, pada malam Imlek banyak yang sudah tutup sejak pukul 17.00 waktu setempat.

Suasana ramai justru terjadi di sejumlah restoran mengingat banyak keluarga yang menjamu relasi dekat atau keluarga lainnya untuk makan malam dalam menyambut tahun baru Imlek.

Sebuah restoran di wilayah Tuan Jie Hu misalnya, yang menghidangkan makanan khas Sichuan tampak ramai dikunjungi tamu dan mereka umumnya tampak suka ria, berbincang dengan saudar-saudaranya.

“Sudah menjadi tradisi bagi kami untuk menjamu relasi atau tamu dengan makan malam menjelang Imlek sebagai tanda persahabatan,” kata Xiu, warga Chaoyang. (Ant/OL-06)

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Tak Tertarik Partai Khusus Tionghoa
Politikus PAN Alvin Lie sama sekali tak tertarik dengan wacana pembentukan partai khusus untuk etnis Tionghoa. Menurut Alvin yang duduk di Komisi VII DPR, partai akan efektif bila berorientasi mewadahi kepentingan segenap unsur bangsa. Kalau partai berbasis kesukuan, hal itu justru berpotensi mengotak-kotakkan bangsa. ”Ini tidak selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,” kata pemilik nama lengkap Alvin Lie Ling Piao tersebut.

Karena itu, Alvin menganggap wajar bila warga Tionghoa menyebar ke berbagai parpol. Apalagi, imbuh dia, dalam realitasnya, warga Tionghoa sangat majemuk dengan beragam latar sosial, ekonomi, dan sikap politik. ”Tapi, apa pun partainya, orang Tionghoa harus mengawal demokrasi yang telah dibangkitkan reformasi,” tegas caleg nomor urut 5 dari dapil Jateng V itu.

Alvin beralasan, berkat demokrasi, warga Tionghoa kini bisa mengekspresikan diri dan tradisinya dengan leluasa. Dia mencontohkan, pentas barongsai yang dilarang semasa Soeharto berkuasa. ”Begitu melihat barongsai tampil saat deklarasi PAN di Solo tahun 1998, saya benar-benar terharu. Nggak pernah membayangkan bisa melihat lagi barongsai di Indonesia setelah 1965,” ujarnya.

Dia punya kisah lain yang cukup memilukan. Menurut Alvin, Kaditsospol Jawa Tengah selalu mengadakan rapat koordinasi saat hari Imlek. Dia bersama teman-temannya sesama warga Tionghoa yang ketika itu aktif di Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) tidak bisa mengelak dari undangan.

”Selalu seperti itu, seolah-olah mencegah. Tapi, sekarang kami bisa merayakannya lebih tenang, nggak usah curi-curi lagi. Bahkan, teman-teman yang bukan Tionghoa pun menyalami,” kata politikus kelahiran Semarang, 21 April 1961 itu, lantas tersenyum.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Mengenal Imlek = Tahun Baru?

Katagori : Salam & Info
Oleh : Fakta 21 Jan 2004 – 4:30 pm

imageIN Nian Kuaile (Bahagia di Tahun Baru), Guo Nian Hao (Selamat Menjalani Tahun Baru), Chunjie Kuaile (Bahagia di Musim Semi), Sincun Kionghi (Selamat Menyambut Musim Semi yang Baru), Sincia Cuyi (Selamat Tahun Baru), Kiunghi Sinnyen (Selamat Tahun Baru) adalah serangkaian ucapan selamat menyambut Imlek dalam bahasa Mandarin, Hokkian, Tiociu, dan Hakka.

MENGAPA di Indonesia hari raya ini disebut Tahun Baru Imlek? Tidak ada satu pun ucapan itu mengandung kata Imlek. Apa arti kata Imlek? Dari bahasa Mandarin-kah? Tidak! Kata Imlek berasal dari bahasa Hokkian Selatan, berarti “penanggalan bulan”. Jadi, kata Imlek sebenarnya mengacu nama penanggalan yang didasarkan perhitungan bulan (lunar), yang dalam bahasa Mandarin disebut yinli. Dengan demikian, istilah Tahun Baru Imlek berarti “Tahun Baru Menurut Penanggalan Bulan”.

PENDUDUK keturunan Cina di Jakarta menggunakan kata sincia “bulan 1 yang baru” dengan ucapan Sincun Kionghi “Selamat Menyambut Musim Semi yang Baru” atau Kionghi berarti “Selamat”. Juga ada kata konyan yang berasal dari guo nian (bahasa Mandarin), berarti “melewati tahun yang baru”.

Di negara asalnya, RRC, perayaan Imlek dinamakan Chunjie, berarti “Perayaan Musim Semi”. Kata Chunjie digunakan sejak RRC merdeka. Sebelumnya digunakan istilah Yuandan, berarti pada pertama di tahun yang baru dimasuki. Tahun 1949 Pemerintah RRC menetapkan nama Yuandan untuk Tahun Baru Internasional, 1 Januari, sedangkan Tahun Baru Imlek dinamakan Chunjie.

Upacara menyambut Tahun Baru Imlek adalah Toapekong Naik, dilakukan pada bulan 12 atau Cap Ji Gwee (bahasa Hokkian)/bulan La (bahasa Mandarin) tanggal 23 atau 24.

Kata toapekong bermakna “paman buyut” (saudara laki-laki buyut) dengan makna kiasan “dewa”. Biasanya dewa dianggap orang berusia tua. Toapekong digambarkan sebagai orang yang seusia buyut atau generasi di atasnya.

Pada tanggal 23/24 itu, Toapekong yang naik bukan sembarang dewa, tetapi dewa tertentu, yaitu Dewa Dapur bernama Zao Shen. Aliasnya, Kakek Dapur, Raja Dapur, Komandan Dapur Timur, Komandan Kepala Keluarga, Dewa Pelindung Rumah, Dewa Penguasa Penentu Kebahagiaan. Mengingat nama-nama alias itu tidak jauh dari hal seputar rumah tangga, maka dewa ini dianggap sebagai dewa keluarga yang menentukan baik-buruknya nasib suatu keluarga. Di Indonesia Dewa Dapur juga disebut Cao Kun Kong.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Siapa sebetulnya Dewa Dapur ini, mengapa ia begitu dihormati sehingga diadakan upacara khusus, misi apa yang dijalankan? Ada yang mengatakan, ia Kaisar Shen Nong yang mengajari manusia bercocok tanam. Ia pula yang menciptakan api. Dikarenakan jasanya yang besar, setelah wafat ia menjadi dewa yang bernama Zao Shen atau Dewa Dapur.

Misinya, memberi laporan kepada Mahadewa tentang hal baik dan buruk dari keluarga bersangkutan. Karena bersemayam di dapur-di salah satu sudut atau tempat di dapur-ia tahu semua perkara dalam keluarga itu. Di situlah seorang ibu mengomel, ngerumpi bersama ibu-ibu lain, tertawa, dan bercanda bersama anggota keluarga lain sambil mengerjakan urusan rumah tangga. Dewa Dapur yang ada di sana pasti mendengar semua perkataan dan mencatatnya. Tanggal 23 dan 24 Cap Ji Gwee atau bulan 12 adalah saatnya Dewa Dapur naik ke langit, melaporkan seluruh kejadian selama satu tahun kepada keluarga itu.

Agar Dewa Dapur tidak melaporkan hal yang jelek, manusia mencari akal untuk menyenangkan hatinya. Bahkan, manusia sampai memikirkan agar dalam perjalanan menuju langit, kuda tunggangan sang dewa tidak kelaparan, dan hewan peliharaannya di dunia tidak mati kelaparan. Pada tanggal 23 dan 24 itu, rumah Dewa Dapur dibersihkan lalu diberi sesajen. Sesajen ini ada yang wajib; ada yang tidak wajib.

Sesajen wajib berupa permen yang manis, liat, dan lengket, manisan buah kundur yang dikenal sebagai tangkua atau tangkwe. Sesajen tidak wajib berupa roti goreng dan teh, yang merupakan bekal bila sang dewa merasa lapar dan haus. Rumput untuk bekal makanan kuda tunggangan sang dewa, sedangkan kulit tahu untuk ayam peliharaannya yang ditinggalkan di bumi.

Sesajen wajib harus manis supaya sang dewa hanya melaporkan hal-hal yang “manis”. Selain manis, juga harus liat dan lengket. Begitu mengulum permen, mulut sang dewa menjadi sulit dibuka sehingga tidak banyak bicara dan hanya tersenyum saja.

Dengan demikian, lengkaplah “perhatian” manusia dalam menghantar dewanya naik ke langit dengan menyimpan maksud tertentu di balik semua itu. Selain itu, pada rumah dewa dipasang bait berpasangan atau duilian berbunyi “naik ke langit mengatakan hal yang baik, pulang ke rumah membawa keberuntungan”, atau “naik ke langit mengatakan hal yang baik, turun ke dunia menjaga perdamaian”.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

DI Desa Tai Xing, Provinsi Jiangsu, RRC, penduduk desa percaya sebelum berangkat naik ke langit, Dewa Dapur menghitung jumlah sumpit di rumah tempat tinggalnya. Ketika turun ke bumi, rezeki yang dibawanya sesuai jumlah sumpit yang ada. Sebelum upacara sembahyang, kepala keluarga menambah jumlah sumpit dengan harapan pada saat turun ke bumi nanti, Dewa Dapur akan menambah rezeki mereka.

Bulan 12 berakhir pada tanggal 30. Bulan berikutnya adalah bulan 1 yang disebut Cia Gwee (bahasa Hokkian)/bulan Zheng (bahasa Mandarin). Malam terakhir di bulan 12 ini disebut chuxi, yang berarti “malam yang ditinggalkan”, maksudnya malam terakhir di tahun itu yang akan ditinggalkan dalam memasuki tahun baru. Malam itu merupakan malam paling baik, ramai, dan menyenangkan karena merupakan malam menyambut kedatangan hari pertama di tahun yang baru.

Ada tiga kegiatan penting pada malam itu. Sebelum acara makan malam bersama, kepala keluarga memasang petasan. Kemudian, pintu utama rumah ditutup dan disegel dengan kertas merah. Tujuannya, agar hawa dingin-karena saat itu musim dingin-tidak masuk ke rumah.

Kertas merah sebagai lambang uang, merupakan alat untuk menjaga kesejahteraan keluarga. Sesudah pintu ditutup, lalu dipasang perapian dengan tujuan mendapat hawa hangat selain mengusir hawa dingin.

Acara berikutnya, makan malam bersama dengan hidangan wajib berupa ikan. Di Jakarta, umum disajikan ikan bandeng. Kebiasaan ini mendapat pengaruh dari daerah Tiongkok selatan. Di Tiongkok utara ada kebiasaan makan jiaozi (penganan berbentuk pempek kapal selam mini, terbuat dari tepung khusus berisi daging dan sayur). Mengapa makan ikan, bukan binatang lainnya? Alasannya, ada pepatah berbunyi nian nian you yu “setiap tahun ada sisa”. Kata yu yang berarti “sisa” berbunyi sama dengan kata yu yang berarti “ikan”. Kesamaan bunyi itulah yang menyebabkan mengapa ikan menjadi hidangan wajib di malam tahun baru. Dengan makan ikan, berarti dalam segala hal ada sisa. Tentu saja yang dimaksud adalah kelebihan rezeki. Makanan wajib lainnya, kue keranjang yang disebut nian gao. Kata gao “kue” berbunyi sama dengan gao yang bermakna “tinggi”. Dengan makan kue keranjang, diharapkan rezeki seseorang setiap tahun bertambah tinggi. Buah jeruk menjadi lambang keberuntungan karena lafal kata jeruk dalam bahasa Mandarin-juzi-mirip ji yang berarti “keberuntungan”.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Saat makan malam itu, di Tiongkok ada kebiasaan memberi angpao kepada anak kecil. Kata angpao berasal dari bahasa Hokkian. Angpao atau hongbao dalam bahasa mandarin bermakna “bungkusan merah”, tidak mengacu uang yang khusus diberikan pada tahun baru. Nama uang pemberian khusus di tahun baru disebut yasui qian, bermakna “uang penutup tahun”.

Selesai makan malam, seluruh anggota keluarga bercengkerama, main catur semalam suntuk sambil bermain petasan. Menjelang tengah malam petasan yang dibunyikan semakin banyak dan besar. Pada zaman dulu digunakan juga meriam buluh untuk memperoleh suara dentuman lebih keras lagi. Tujuannya, untuk mengusir setan dan hantu. Malam itu malam terakhir musim dingin yang berasosiasi dengan Yin yang menimbulkan hawa dingin, gelap tanpa sinar bulan sehingga banyak setan berkeliaran.

Keesokan harinya merupakan hari pertama tahun baru, sekaligus menandai dimulainya musim semi. Musim semi berasosiasi dengan Yang yang menimbulkan hawa hangat, tanda-tanda kehidupan dimulai lagi, seperti bunga mulai bermekaran. Malam itu merupakan malam untuk mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang sudah dilalui dan menyambut tahun baru yang akan dijalani dengan penuh harapan.
Hermina Sutami Pengajar Program Studi Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

MUI Izinkan Imlek di Masjid

YOGYAKARTA, (PR).- Warga Tionghoa yang menganut agama Islam atau Muslim di Yogyakarta, mungkin tidak akan mengira akan dapat melaksanakan perayaan Imlek di masjid. Keinginan tersebut tampaknya bakal terwujud setelah pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yogyakarta memberikan izin kepada Parsatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) setempat untuk melakukan kegiatan tersebut di Masjid Suhada, Kota Baru.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/06/0505.htm

Boleh, Imlekan di Masjid

JOGJAKARTA– Barangkali, ini merupakan fatwa pertama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) memperbolehkan perayaan tahun baru China 2554 (Imlek) di dalam masjid. Rekomendasi itu dikeluarkan setelah MUI mempelajari dan mencari sejumlah masukan dari berbagai buku mengenai Imlek. Ternyata, perayaan Imlek tidak berkaiatan dengan ritual keagamaan.
http://ldnu.org/berita/arsip/000933.shtml

Warga Tionghoa di Yogya Rayakan Imlek di Masjid dan Gereja
detikcom – Jakarta, Warga Yogyakarta keturunan Cina yang beragama Islam dan Nasrani di akan turun merayakan Tahun Baru Tionghoa Imlek 2554 di masjid dan gereja. Jadi, perayaan tidak cuma ada di klenteng.
http://www.indonesiamedia.com/2003/03/berta-0303-imlekmesjid.htm

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Hikayat Imlek, Dulu dan Sekarang

detikHot – Jakarta,Tiga atau empat tahun yang lalu, pemandangan seperti ini tidak mungkin ada: Mal-mal di Jakarta berhias lampion-lampion, pita-pita dan berbagai hiasan dengan nuansa serba merah. Tulisan China di sana-sini. Orang-orang saling mengucap selamat dalam bahasa yang aneh, Gong Xi Fat Cai. Semoga sejahtera. Inilah yang pada Hari Raya Imlek atau tahun baru Cina sejak rezim Soeharto berlalu.

Tahun ini, Imlek jatuh pada Sabtu (1/2/2003) besok. Untuk pertama kalinya, Imlek akan dirayakan dalam suasana hari libur nasional, setelah tahun lalu pemerintah menetapkannya sebagai hari libur fakultatif. Artinya, hanya yang merayakannya saja yang mendapatkan libur. Perayaan Imlek secara besar-besaran di bawah “pengakuan resmi” dari pemerintah semacam ini terjadi sejak Pemerintahan Presiden Gus Dur.

Sejak itu, kemeriahan perayaan Imlek sejajar dengan Lebaran dan Natal. Yang paling mencolok, tentu, perayaan secara fisik yang tercermin dalam kesibukan pusat-pusat perbelanjaan dan institusi-institusi hiburan seperti televisi dan industri pertunjukan. Seperti halnya Lebaran dan Natal, Imlek sekarang sudah punya “daya jual” untuk menjadi tema diskon di mal-mal dan supermarket. Stasiun televisi pun berlomba-lomba menyajikan acara khusus menyambut Imlek. RCTI misalnya, terlihat paling bersemangat.

Semangat yang sama juga terpancar pada masyarakat keturunan Tionghoa sendiri, yang merayakan “kemenangan politik” ini dengan penuh suka cita. Ada laporan menarik dari Yogyakarta. Warga kota pelajar itu, khususnya kalangan keturunan Tionghoa yang beragama Islam dan Nasrani, merayakan Imlek atau Tahun Baru Cina 2554 di masjid dan gereja.

Kalau melacak sejarahnya, Imlek memang bukan perayaan keagamaan tertentu, melainkan upacara tradisional masyarakat Tiongkok. Di Cina sendiri, Imlek diperingati bersama oleh warga yang beragama Konghucu, Budha, Hindu, Islam, Katolik dan Kristen. Awalnya dahulu, Imlek atau Sin Tjia merupakan sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama awal tahun baru.

Perayaan itu juga berkaitan dengan pesta menyambut musim semi, yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuannya, tak lain sebagai syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, di samping untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, dipilih hidangan yang berasosiasi pada makna “kemakmuran”, “panjang umur”, “keselamatan”, atau “kebahagiaan” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.

Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya, sebagai simbol harapan akan kehidupan yang lebih manis di tahun baru. Dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rejeki yang berlapis-lapis, kue mangkok dan kue keranjang. Bubur sangat dihindari sebagai hidangan di hari ini karena dianggap melambangkan kemiskinan.

Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk menyantap hidangan yang disuguhkan. Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rejeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa.

Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Dan, lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai. Gong Xi Fat Cai.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Makna Perayaan Tahun Baru Imlek

Oleh: Ks Sofyan Jimmy Yosadi – mahasiswa Fakultas Hukum UKIT

Perayaan Tahun Baru Imlek (Sienci) atau Tahun Baru Khonghucu 1 Cia Gwee 2550 menurut penanggalan masehi jatuh pada tanggal 16 Februari 1999. Bagi umat Khonghucu, Tahun Baru Imlek dirayakan dengan melaksanakan sembahyang sujud syukur ke hadirat Thian, Tuhan YME yang telah melimpahkan curahan berkat dan rahmat-Nya sepanjang tahun yang telah berlalu hingga dapat memasuki tahun yang baru. Perayaan ini mengandung makna agama yang mendalam karena diikuti berbagai upacara keagamaan/ritual yang dilaksanakan sebelum dan sesudah Tahun Bru Imlek.

Bagi orang Khonghucu Indonesia melakukan sembahyang sujud syukur pada Tahun Baru Imlek merupakan kewajiban pelaksanaan ibadah sesuai keyakinan agamanya. Umat Khonghucu tidak menyatakan perayaan Tahun Baru Imlek sebagai Thun Baru Cina. Agama Khinghucu da di dunia sudah ribuan tahun sebelum negara Cina diproklamirkan. Oleh karena itu hrus dibedakan dengan orang yang kebetulan etnis Cina lalu ikut merayakannya, maka sesuatu hal yang keliru dan salah kaprah kalau persujudan dan puji syukur kepada Tuhan pada hari itu dikaitkan dengan budaya, adat dan tradisi Cina.

Janganlah menanggapi agama Khonghucu dengan menanggapi secra tradisi Cina. Dlam perkembangn suatu ajaran agama di mana agama itu lahir di suatu tempat, yang sebelumnya telah memiliki suatu tradisi dan budaya yang spesifik, maka ajaran agama ini turut mempengaruhi tradisi dan budaya setempat dan bukan sebaliknya. Namun disadari, dalam perkembangannya kemudian, agama apapun akan turut terbawa tradisi awal di mana tempat agama itu terlahir. Adalah suatu kebetulan agama Khonghucu lahir di Tiongkok, tetapi agama Lhonghucu tidak membicarakan tentang trdisi Cin namun membicarakan tentang Tuhan, Firman, Iman, Kebijakan, dan sebagainya. Dalam siftnya yang universal dan global, agama Khonghucu di Indonesia, baik dalam Kitab Sucinya, kebaktinnya, ritualnya menggunakan bahasa Indonesia tapi mengangkut hal-hal yang prinsip tentang keimanan tetap memakai bahasa Kitabnya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Di RRC sendiri, Thun Baru Imlek dirayakan sebagai perayaan musim semi, demikian juga berlainan dengan masyarakat Cina lain yang merayakannya sebagai menyambut tahun “kelinci”.

Kehadiran tulisan ini mencoba menjelaskan sepintas kilas tentang makna agama yang terkandung di dalam perayaan Tahun Baru Khongcu/Imlek, dengan maksud agar dapat menambah pengertian bagi umat Khonghucu dan segenap simpatisannya, juga umat beragama lain agar lebih dapat diketahui khalayak masyarakat guna menghindari salah persepsi.

Penanggalan Imlek

Perhitungan penanggalan Imlek semula didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi (lunar calender), dan telah dikenal sejak ribuan tahun sebelum masehi. Uniknya perhitungan penanggalan ini juga didasarkan atas peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calender), seperti penanggalan masehi. Maka terjadi penyesuaian yaitu melalui mekanisme yang dikenal sebagai ‘Lun Gwee’ (bulan ulang) atau penyisipan 2 (dua) bulan tambahan setiap 5 (lima) tahun. Dengan adanya penyesuaian ini maka lebih tepat disebut penanggalan Imyanglek (sistem lunisolar).

Dalam sejarah tercatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah He Lek, yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM), di mana pertama kali mengenalkan penanggalan berdasarkan solar, dan penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musin dingin. Nabi Khongcu yang hidup pada zaman Dinasti Cou / Chin (1122-255 SM) merasakan bahwa sistem penanggalan yang dipakai Dinasti Ciu kurang mempunyai nilai praktis, yaitu karena tahun baru jtuh jatuh pada hari Tangcik (Tung Ze).Saat itu hari tengah musim dingin maka pendapat Nbi Khongcu, penanggalan Dinasti He yang paling tepat, hal itu dapat diketahui dari Sabda Nabi Khongcu : “Pakailah penanggalan Dinasti He …” Kitab Sabda Suci (Lun Gi / Lun Yu) jilid XV : 11.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Adapun yang menjadi dasar pertimbangan Nabi Khongcu adalah kesejahateraan umat manusia. Pada kehidupan zaman dahulu, penetapan saat tahun baru memegang peranan yang amat penting, karena penetapan tersebut menjadi pedoman bagi semua orang untuk mempersiapkan segala pekerjaan untuk tahun yang berjalan, terutama para petani yang akan mulai bercocok tanam pada saat akhir musim dingin dan memasuki musim semi. Penanggalan ini sangat cocok bagi petani karena penanggalan tersebut perhitungan musim, peredaran matahari, serta uraian penjelasan mengenai iklim, maka penanggalan tersebut jadi populer dan disebut juga Long Lek (penanggalan petani).

Kaisar Han Bu Tee (140-86 SM) dari Dinasti Han (206 SM-220) menetapkan agama Khonghucu sebagai agama negara, dan penanggalan yang dianjurkan oleh Nabi Khongcu, yaitu He Lek resmi dipakai semua orang, baik masyarakat maupun pemerintahan dan tahun pertamanya dihitung dari tahun kelahiran Nabi Khongcu, yaitu tahun 551 SM, dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi berselisih 551 tahun. Oleh karenanya jika tahun masehi saat ini 1999, maka tahun Imleknya menjadi 1999 + 551 = 2550. Karena dihitung sejak Nabi Khongcu lahir maka tahun Imlek lazim disebut sebagai Khongculek.

Sistem penanggalan Imlek ini digunakan juga dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya di Jepang, Korea, Vietnm, Taiwan, Burma, dan negara lainnya meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi merayakan hari tahun barunya sama. Bahkan di lingkungan agama Budha Sekte Mahayana yang berkembang di kawasan Asia Timur juga menggunakan penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari suci keagamaannya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Tahun Baru Khongcu (Imlek) selalu jatuh pada bulan baru (Chee It / Chu Yi) setelah memasuki Tai Han (T Kan) 21 Januari (Great Cold – saat terdingin), sampai dengan tibanya Hi Swi (Yi Suei) 19 Feebruari (spring showers – hujan musim semi). Tapi masih dapat ditolerir paling awal 3 hari sebelumnya seperti tahun 1969 jatuh pada hari Sabtu, 18 Januari 1969.

Adanya informasi dan berbagai tanggapan bahwa Tahun Baru Imlek / Khongculek 2550 dimajukan menjadi tanggal 16 / 17 Januari 1999, kemungkinan adalah suatu upaya untuk mempercepat berakhirnya “tahun harimau” yaitu dianggap penuh berbagai krisis. Tapi perlu ditegaskan bahwa Tahun Baru Imlek Khongculek 2550 yang benar adalah 16 Februari 1999.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Makna Religius

Pergantian tahun yang baru merupakan suatu penyesuaian terhadap gejala alam semesta, yang dilambangkan berkah-Nya melimpah bagi semua mahluk hidup. Di dalam kehidupan manusia, tahun baru merupakan suatu masa tentang keharmonisan dalam tata kehidupan, semua umat bergembira menyambut kehadiran tahun yang baru ini dengan penuh harap. Sesungguhny pa bedanya tahun kemarin dengan tahun baru, malam kemarin dengan malam tahun baru? Mengapakah pergantian tahun disertai dengan makna yang sarat, sehingga sanggup menghimpun manusia untuk merayakannya?

Pergantian tahun merupakan suatu momentum untuk menyadari secara mendalam, bahwa kita terikat oleh waktu. Bersamaan dengan itu gejala perubahan alam dalam masa pergntian tahun, manusia diingtkan bahwa ia hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Keterikatan perjalanan hidup terhadap ruang dan waktu menyadarkan kita sebagai makhluk yang kecil dan lemah di hadapan Tuhan, kekuasaan yang mengatur alam semesta ini. Sekurang-kurangnya manusia mengucapkan syukur, berterima kasih karena masih diberi kesempatan menjalani kehidupan dalam ruang dan waktu ini. Karunia Thian, Tuhan YME berlimpah dicurahkan kepada umat manusia. Oleh karena itu sudah sewajarnya manusia sadar untuk berusaha menengadah mengucapkan puji syukur. Pada saat ini kita berusaha memperbaiki diri dan mengakhiri semua permusuhan, kebencian, dan kejahatan.
“Sungguh Maha Besarlah Kebijakan Kwi Sien (Tuhan dalam sifat-Nya Yang Maha Rokh). Dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-Nya. Sungguh Maha Besarlah Dia, sehingga terasakan di atas dan di kanan kiri kita. Adapun kenyataan Tuhan Yang Maha Rokh itu tidak boleh diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Maka sungguh jelas sifat-Nya yang halus itu, sehingga tidak dapat disembunyikan dari iman kita, demikianlah Dia.” Kitab Tengah Sempurna (Tiong Yong / Chung Yung) Bab XV.

Pada hari pertama tahun baru Imlek semua umat Khonghucu bertingkah laku dengan cara yang berlainan dari biasanya. Rumah dibersihkan, orang menghias diri dengan pakaian yang baru, menyediakan makanan yang enak. Kesemuanya itu, seluruh kehidupan jasmani rohaninya diliputi rasa gembira dan bahagia, yang dibarengi dengan rasa dan suasana cinta kasih kepada sesama manusia, rasa syukur kepada Tuhan YME.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Pada Tahun Baru Khongcu/Imlek ini, umat Khonghucu melaksanakan sembahyang sujud ke hadirat Tuhan sesuai dengan apa yang diperintahkan agama, sebagaimana yang disabdakan Nabi Khongcu : “Pada permulaan tahun (Liep Chun), jadikanlah sebagai hari agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Tuhan.” Kitab Lee Ki / Li Chi bagian Gwat Ling.

Berkaitan dengan perayaan Imlek pada tahun 1999 ini, maka Badan Pengurus MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) mengeluarkan seruan kepada segenap umat Khonghucu dan segenap simpatisan di seluruh tanah air, agar perayaan tersebut hendaknya dilakukan secara sederhana. Karena hakekat tahun baru bukan untuk berhura-hura atau berpesta pora, melainkan untuk merenung, berkontemplasi, bersujud syukur ke hadirat Tuhan, ‘sungkem’ kepada orang tua, melakukan introspeksi dan membina diri, serta memperbaiki tali silaturahmi dan tali persaudaraan sesama manusia. Perayaan Tahun Baru Imlek di kala keadaan krisis seperti saat ini, akan lebih tepat bila digunakan untuk lebih meningkatkan kepedulian sosial kita terhadap lingkungan. Tindakan berpesta pora pada saat krisis, tidak saja kurang etis namun juga bisa menambah berat beban perekonomian secara makro karena bisa memancing kenaikan harga.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Rangkaian Kegiatan Keagamaan

Perayaan Tahun Baru Imlek sudah mulai dipersiapkan ritual keagamaannya sejak 7 hari menjelang tahun baru dengan melaksanakan sembahyang menghantar Malaikat Dapur (Co Kun Kong), dan bagi umat Khonghucu yang penghidupannya sudah mapan saat ini berkesempatan untuk memberi santunan kepada mereka yang berkekurangan. Maka hari itu disebut juga sebagai Hari Persaudaraan (Ji Si Siang Ang).

Selanjutnya sehari sebelum tahun baru, sembahyang penutup tahun sekaligus menyambut tibanya tahun baru yang dilakukan persujudan rasa syukur ke hadirat Tuhan yang berkenan melindungi dan memberkahi sepanjang tahun yang akan ditinggalkan dan memohon agar tahun yang akan dimasuki dapat menghantar kepada kondisi kehidupan yang lebih baik daripadaa tahun lalu. Dalam sembahyang ini disampaikan pula hormat kepada orang tua yang sudah meninggal dunia juga kepada leluhur sebagai perwujudan bakti dan rasa terima kasih atas asuhannya. Hari itu juga biasanya para keluarga memperindah rumah, membuat kue, dan melaksanakan perayaan ini secara sederhana, tulus dan penuh hikmah tanpa kesan berlebihan.

Pada saat memasuki detik-detik tahun baru, sembahyang dilaksanakan lagi dengan penuh hikmat, khusuk dan gembira kemudian saling memberi hormat dan mendoakan semoga panjang umut, murah rejeki dan sehat sejahtera sambil memohon ampunan kepada orang tua dengan melakukan sungkem/hormat (Kui Ping Sien). Sedangkan kepada saudara saling memaafkan lalu saling mengunjungi sanak keluarga dan sehabat untuk menyampaikan hormat dan saling mendoakan diiringi maaf memaafkan.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Hari keempat di tahun yang baru dilakukan sembahyang untuk menyambut turunnya Malaikat Dapur (Co Kun Kong). Dapur merupakan salah satu bagian penting dari sebuah rumah tangga, karena di tempat ini semua kegiatan mengolah makanan untuk santapan keluarga dilakukan. Oleh karenanya dapur perlu dipelihara dengan baik, selain perlu selalu dijaga kebersihannya.

Kemudian hari kedelapan menjelang hari kesembilan (dilaksanakan pada Si/jam pertama), sembahyang beesar kepada Tuhan (King Thi Kong). Sesuai dengan amanat suci dalam Kitab Lee Ki (kitab kesusilaan), dilaksanakan dengan mempersiapkan diri secara khusus berpantang makanan (berpuasa/vegetaris) sejak hari ketiga sampai berakhirnya sembahyang King Thi Kong. Sembahyang ini merupakan sembahyang besar dengan peyerahan diri secara total kepada Tuhan yang bermakna betapa manusia demikian kecilnya di hadapan-Nya.

Pada hari ketigabelas, dilaksanakan upacara suci memperingati kemuliaan Kwan Kong (Dewa yang melambangkan sikap Ksatria, Setia, Berani, Bijaksana, dan taat pada agama).

Pada hari kelimabelas dilaksanakan upacara Purnama Raya (Cap Go Meh/Goan Siau) hari yang penuh makna, dan sarat dengan upacara keagamaan dalam istilah masyarakat Manado adalah “pesiar Toapekong”.

Merayakan Tahun Baru Imlek : Boleh atau Tidak?

Ada apa dan bagaimana sebenarnya hingga tahun baru Imlek senantiasa mendapat tanggapan negatif serta mengundang anggapan bahwa menghambat pembauran, mengancam persatuan dan kesatuan bangsa?

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com – GONG-XI-FAT-CHOI

Oleh: malioboronline | Januari 15, 2009

BUY, OR YOU’LL BEHIND!!!


Disaat banyak orang terprovokasi oleh komentar para pakar tentang dampak krisis finansial global yang dipicu oleh tumbangnya sistem ekonomi liberal-kapitalis Amerika, ketika para pelaku bisnis property limbung oleh penjualan yang seret, dan sebagian marketing disejumlah pengembang perumahan menemukan alasan untuk tidak bisa menjual, ternyata Perumahan Ayodhya Citra 2 tetap mencatat penjualan yang sangat bagus, bisa dilihat dari dua gambar ini.Sebelah kiri bawah adalah kondisi Bulan Januari 2009, sedangkan sebelah kanan bawah adalah kondisi bulan November 2008.
( Sejak awal November 2008 hingga Pertengahan Januari 2009 telah terjual 15 unit ).

PT. Citra Kedaton selaku pengembang memberikan apresiasi yang tinggi sekaligus mengucapkan terimakasih kepada para konsumen yang telah menjatuhkan pilihan kepada Perumahan Ayodhya Citra 2 untuk dijadikan sebagai hunian maupun investasi.
Hal ini memacu kami untuk bisa mempertahankan kwalitas produk dan layanan kami serta berusaha menyajikan produk yang setara atau lebih baik dari yang selama ini telah kami berikan.

Bagi anda yang saat ini tengah memilih-milih rumah, semoga Perumahan Ayodhya Citra 2 bisa memberi solusi atas kebimbangan anda dalam memilih rumah di Yogyakarta.

BUY, or you’ll behind!!

Oleh: malioboronline | Januari 15, 2009

Mantan Baby Sitter Jadi Ratu Bisnis Rumah Sewaan


Intan Aprilia. Nama yang satu ini cukup populer di kalangan ekspat di Tanah Air. Bahkan, kalangan kedubes asing dan perusahaan multinasional yang ada di Indonesia banyak yang mencari dan merekomendasi namanya untuk menggunakan jasanya. Siapa sih Intan? MC, entertainer, atau penyanyi dangdut?

Bukan. Intan yang satu ini bisa dijuluki sebagai ratunya bisnis rumah sewaan bagi kalangan ekspat. Bagaimana tidak. Wanita kelahiran Yogyakarta, 4 April 1969 ini mengelola ratusan rumah di Jakarta, di samping 27 vila di Bali. Dari sejumlah rumah dan vila yang dikelolanya itu, beberapa di antaranya merupakan miliknya sendiri – walaupun ia enggan mengungkapkan berapa persisnya.

Istimewanya, rumah-rumah sewaan yang dikelola Intan itu berlokasi di daerah komunitas ekspat. Antara lain di kawasan Kemang, Cipete, Cilandak, Kebayoran Baru, Pondok Indah, Menteng dan Kuningan. Umumnya, rumah yang disewakan untuk para ekspat ini memiliki ukuran luas 250-300 m2. Kebanyakan memiliki tiga-empat kamar, taman dan kolam renang. Untuk rumah dengan kriteria seperti itu, Intan mematok tarif US$ 3-4 ribu per bulan (dengan masa sewa minimum setahun). Namun, jika salah satu atau dua kriteria tidak terpenuhi, tarifnya bisa kurang menjadi US$ 1-2 ribu per bulan.

Dengan terbuka Intan mengaku mengutip fee 5% dari nilai sewa – tentunya untuk rumah yang bukan miliknya. Selain itu, Intan masih mendapatkan komisi 5%-10% dari biaya desain interior, jika penyewa menginginkan interior rumah sesuai dengan keinginannya. Intan pun masih memperoleh fee 10%-15% dari perusahaan asuransi. Pasalnya, wanita yang fasih menguasai beberapa bahasa asing – seperti Inggris, Jerman dan Prancis – ini, mewajibkan kepada para pemilik supaya mengasuransikan rumah yang akan disewakannya itu. Proses pengurusan asuransinya dilakukan oleh Intan, yang memang sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan asuransi kerugian Allianz Indonesia.

Adapun untuk vila, biaya sewanya Rp 300 ribu per hari untuk kelas standar, yakni vila yang hanya memiliki dua kamar dan tidak ada kolam renang. Sementara untuk kelas VIP, tarifnya mulai US$ 300 per hari. Seperti halnya untuk sewa rumah, dari sewa vila ini Intan mengutip fee 5%.

Lantas, apa jurus mantan baby sitter ini sehingga namanya sering direferensikan orang? “Saya tidak pernah melakukan promosi. Modalnya networking dan kepercayaan saja. Kuncinya, saya keep-in-touch terus dengan mereka,” ucap Intan. “Tentunya, saya juga mesti tahu taste dan ekspektasi si ekspat ini seperti apa.”

Kedubes Belanda, misalnya, sejak 1999 hingga sekarang selalu memakai jasa Intan untuk mencarikan rumah bagi warganya yang akan bermukim di Indonesia. Begitu pula, perusahaan pertambangan Conoco, sudah sejak lama menjadi pelanggannya. “Pihak embassy dan perusahaan tahu nama saya, karena direkomendasikan oleh mantan klien yang sudah balik ke negaranya,” ujar perempuan yang sehari-hari mengemudikan BMW seri 3 terbaru ini.

Klaim Intan dibenarkan salah satu mantan kliennya, ekspat asal Prancis bernama Christine, 47 tahun. Menurut mantan aktivis LSM yang sekarang berprofesi sebagai guru privat dan penerjemah ini, ia datang ke Jakarta pada Desember 2001. “Ketika itu saya langsung mengontak Intan, karena diberi tahu pihak kedubes di sini,” kenang Christine. Ketika itu, ia menyewa sebuah rumah di kawasan Menteng dengan tarif US$ 1.000 per bulan. “Saya berteman baik dengan Intan. Saya juga suka rekomendasikan nama Intan kalau ada orang Prancis yang cari rumah di Indonesia,” tutur wanita yang masih melajang ini.

Toh, keberhasilan Intan di bisnis penyewaan rumah itu tidak diraihnya secara gampang. Banyak liku-liku hidup yang telah dia alami. “Sebenarnya, saya bercita-cita ingin menjadi guru, tetapi orang tua tidak merestui,” kenang Intan. Oleh karena itu, sekolahnya di sebuah SPG di Yogyakarta hanya berjalan dua setengah bulan. Selanjutnya, Intan mengembara ke Jakarta dan bekerja sebagai baby sitter di sebuah keluarga ekspat asal Inggris. Gaji yang diterimanya Rp 95 ribu per bulan. Untungnya, Intan diperbolehkan ikut sekolah sore. Pekerjaan ini hanya dilakoninya selama 8 bulan, karena pegawai lain merasa iri atas perbedaan perlakuan yang diterima Intan.

Wanita yang kini memiliki sekolah kelompok bermain di Yogyakarta dan Bali ini balik lagi ke kampung halaman, bekerja sebagai penjaga rumah dan toko seorang warga keturunan Cina. Seperti majikan sebelumnya, Intan pun diperbolehkan ikut sekolah sore di SMEA Budi Dharma. Setelah mengantongi D-1 bidang sekertaris, Intan bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan pemasok alat-alat laboratorium, PT Hartex. Sementara malam harinya ia mengambil kuliah D-3 Jurusan Public Relations di Universitas Sahid. Dari Hartex, Intan sempat bekerja di perusahaan trading asal Cekoslowakia, ICEC. Ia juga pernah menjadi sekertaris di perusahaan jasa konsultan asal Korea, Rural Development Consultant.

Dunia properti mulai disentuhnya pada 1995, ketika ia menjadi staf pemasaran di perusahaan agen properti PT Alfi – yang menyewakan rumah untuk ekspat. Sayangnya, pada 1998 ketika krisis moneter perusahaan itu gulung tikar. Namun, ini malah menjadi blessing in disguise bagi Intan. “Banyak klien yang mendukung saya supaya meneruskan jasa keagenan ini. Oleh karena itu saya memberanikan diri. Lagi pula, saya ingin bekerja fleksibel dan mandiri,” Intan menguraikan. Lalu, ia mendirikan Global City Service Jakarta – yang sekarang bernama PT Global Intan Service. Berkat keseriusan dan kepiawaiannya membangun jejaring, bisnis penyewaan rumahnya berkembang, hingga ia sendiri bisa memiliki beberapa rumah untuk disewakan.

Menurut Intan, potensi bisnis penyewaan rumah untuk ekspat cukup menjanjikan. Di Jakarta saja saat ini terdapat sekitar 80 ribu ekspat. Ia memperkirakan, jika kondisi sosial politik Indonesia kondusif seperti sebelum krisis, jumlah ekspat pun akan terus bertambah. Di sisi lain, rumah yang hendak disewakan jumlahnya terus meningkat. “Bisnis ini sangat menjanjikan. Buktinya, agen properti yang bermain sangat banyak,” Intan menandaskan.

Oleh: malioboronline | Januari 6, 2009

Smells Good Water in HARMONY


( Ki-ka : Kakung, Om Wid, Tante Aniek, Dik Rona, Uyut Nanang, Uti, Aghniya/Attar, Dik Puput, Uyut uti,Mbak Nanda, Mama, Suaminya Mama )


( Kika : Dik Rona, Kakung, Aghniya / Attar )


( Kika : Mbak Nanda, Dik Rona, Kakung, Aghniya/ Attar, Dik Puput )

Smells Good Water in Harmony adalah suasana penuh ceria saat Aghniya/ Attar sibocah Ganteng berlibur ke Banyuwangi ( Smells Good!!? ) Natal dan Akhir Tahun 2008 lalu.

Indahnya kehidupan jika dipenuhi rimbunan hijau dedaunan disekitar kita….sejuk….dan indah penuh Harmoni….

Kalau saja foto paling atas berlatar belakang Gedung-gedung….huuu..GERSANG,Booo’…!!!

Mari menanam Pohon…..buat anak cucu….

.

Oleh: malioboronline | Desember 22, 2008

My Apologize…My Wife…( SELAMAT HARI IBU )

Dua hari lalu, sekitar jam delapan malam……

Malam itu saya sedang kecapaian karena seharian mengukur jalan…..menyusuri jalan raya untuk urusan kantor, sehingga usai makan malam d irumah, langsung membaringkan badan di ruang keluarga, sambil menikmati alunan suara istri saya yang meninggi karena gusar dan gemas ngajarin anak saya yang kelas 1 SD tak kunjung paham belajar tentang membaca Jam / waktu.

Di ruang itu, selain saya serta “Bu Guru” dan “Murid” nya, adapula anak saya yang masih bayi, baru umur 5 bulan dan sepertinya sedang dalam masa pencarian jati diri, karena dari tadi terdengar asyik mengeluarkan berbagai macam suara dari mulut kecilnya…sambil terlentang sementara kakinya menghentak-hentak kasur.

Terpancing oleh kelucuan suara si kecil yang mengeluarkan bermacam suara aneh dipadu dengan dialog guru dan murid yang menggemaskan, saya bangun dan meramaikan suasana dengan bercanda sama si kecil.

Ternyata keikutsertaan saya meramaikan suasana memancing emosi sang ‘Ibu Guru’ yang kemudian murka dan menuduh saya tidak mendukung suasana belajar-mengajar, karena sang murid jadi terganggu konsentrasinya…lebih terfokus ke mata pelajaran hentak kaki dan testing berbagai macam suara yang saya lakukan bersama pendekar mungil berusia 5 bulan!

Sang ‘Ibu Guru’ colong playu, kabur ke dapur dan membantu asistennya (pembantu) masak lalu mencuci pakaian!

Hanya 5 menit sejak istri saya kabur dari arena, anak saya yang besar sudah beralih profesi menjadi sutradara permainan boneka, bermain dengan puluhan boneka kecilnya…dan mencampakkan buku pelajarannya, sedang si bayi kini tampak khidmat melakukan ritual yang menimbulkan aroma tak sedap… Rupanya beliau pup, Be – A – Be, Buang Air Besar!!

Saya segera mengutus sang sutradara untuk memanggil ibunya di ruang belakang agar segera mengurusi hajat si bayi, membersihkan popok dan bayinya, namun ternyata utusan saya muncul dengan kabar mengecewakan, karena istri saya melalui utusan saya tadi bilang agar saya sebagai Kepala Pemerintahan di rumah tersebut, ngurus bersih-bersih sisa hajatan bayi!

Tiga kali utusan bolak-balik ke depan dan belakang dengan hasil tak mufakat, yang berarti saya dipaksa bersihin popok dan seterusnya, sayapun menemukan ego sang pemimpin!

Rasa capai kembali merasuki jiwa, emosi menyusup buluh nadi…saya bangkit dari pembaringan dan menuju dua buah pintu yang memisahkan ruang tengah dengan dapur dan tempat cuci. Kedua pintu saya kunci dari dalam, lalu saya tanpa keahlian yang cukup meraih jabang bayi yang mulai menemukan suara favouritnya (menangis keras-keras) dan memberanikan diri membuka popoknya dan seterusnya.

Tanpa keahlian yang cukup, gak aneh kalo hasilnya adalah kotoran bayi menyebar keberbagai penjuru ruangan, selain melebar keseluruh badan si jabang bayi…

Saya coba tidak panik, namun tetap bertindak dengan tensi tinggi…emosi…ego…

Saya ingat bahwa istri selalu menggunakan tissue basah untuk membersihkan bayi usai pup, saya coba cari tissue basah, ternyata tinggal selembar!

Karena tak cukup untuk membersihkan sampai tuntas dengan satu lembar tissue basah, saya segera membawa si jabang bayi ke kamar mandi di kamar utama, tanpa pikir panjang, badannya saya celupkan ke bath tub yang kebetulan berisi air setinggi 20cm-an. Mungkin karena air di bath tub dingin, tangis si jabang bayi makin kencang.

Istri saya terpanggil naluri keibuannya, berlari menuju ke dalam. Namun dia terhalang pintu yang saya kunci dari dalam! Saya tersenyum puas….merasakan kemenangan!

Terdengan ketukan dan teriakan bertubi-tubi, dan nada cemas seorang peri baik budi yang ingin membela mahluk teraniaya…

Setelah terasa cukup bersih badan si bayi, saya menuju kamar dan menyelimuti badan bayi sambil mencari popok dan asesoris lainnya. Tangisnya mereda, namun hal tersebut tetap belum mampu meredakan kecemasan istri saya….terbukti dia sempat pindah posisi, mengetuk pintu depan….berarti dia memutar lewat lorong di samping rumah, perjuangan yang patut diacungi jempol.

Dan perang belum berakhir, dengan congkak saya melarang anak perempuan saya membukakan pintu……agar kecemasan lawan saya semakin menyiksanya….

Jabang bayi yang telah usai menangis, terlelap di gendongan saya….saya merasakan kemenangan sebagai lelaki yang bisa juga mengurus bayi!

Saya lupa bahwa jika dinilai antara 1 – 10, paling saya cuma dapet nilai 3 untuk keberhasilan menidurkan bayi, sedangkan dampak tercemarnya lingkungan oleh kotoran bayi serta aroma semerbak khas pup bayi yang mencemari udara ruangan menyumbang poin NOL BESAR!!!

Padahal saat saya lihat istri saya melakukan tugas tersebut, kelihatannya mudah…..

Karena tak tahan dengan teror ketukan pintu serta teriakan pahlawan yang tersumbat aspirasinya, tak sampai 15 menit kemudian, akhirnya saya bukakan pintu untuk sang peri agar bisa melimpahkan kasihnya kepada jabang bayi.

Dua hari setelah kejadian berlalu, dua hari sudah saya dicuekin sama istri karena kejadian malam itu…. Sekarang saya sedang mencari jalan untuk mencapai rekonsiliasi, sambil menyusun kalimat untuk mengakui ( lagi ) kehebatan seorang Ibu.

Semoga istri saya tahu, sejujurnya saya semakin sayang dia…

Semoga anak-anak saya tahu, saya makin rela dijadikan pelampiasan rasa kesal anak-anak saya kelak saat mereka berbeda pandangan dengan ibunya.

Salam taklim untuk semua perempuan….semua Ibu di muka Bumi…

Oleh: malioboronline | November 27, 2008

Hermawan Kartajaya dan Kisah Sukses di Dunia Marketing


Hermawan Kartajaya termasuk sosok langka di Surabaya. Lahir dan dibesarkan di metropolis, kini dia telah menjadi warga dunia. Berbagai jabatan tingkat internasional disandang berkat kompetensinya di dunia marketing.

Saat ini, selain menjadi founder MarkPlus Inc. ayah dua anak itu tercatat sebagai presiden Asosiasi Marketing Dunia, salah seorang di antara 50 guru marketing dunia, konsul kehormatan Republik Ceko di Surabaya, dan masih ada sederet gelar lain.

Hingga awal 1980-an, semua itu tak pernah terbayang di benak Hermawan. Statusnya sebagai guru di SMAK St. Louis membuat Hermawan seolah tak mungkin menekuni dunia pemasaran.

Hermawan berstatus sebagai guru di St. Louis hingga 1985. Sebelumnya, selama lima tahun dia membaktikan diri di SMP Sasana Bhakti. Di sekolah menengah pertama itu, pria yang berulang tahun tiap 18 November tersebut pernah mencatat sebuah prestasi. Yakni, menjadi kepala sekolah di usia yang masih belia, 20 tahun.

“Hingga kini, saya masih yakin bahwa saya termasuk salah seorang kepala sekolah SMP termuda di Surabaya,” ucapnya kemudian tertawa kecil.

Melihat Hermawan saat ini, tentu tak ada yang meragukan kemapanannya di bidang finansial. Tapi saat muda, dia mengaku harus melalui jalan hidup yang sulit. “Menjadi guru itu juga karena saya kepepet ekonomi,” kenangnya.

Nasibnya berubah setelah dia diminta menjadi manajer distribusi oleh salah seorang bekas muridnya, Kindarto Kohar. Kindarto adalah pemilik PT Panggung, sebuah perusahaan yang memegang lisensi peredaran produk elektronik dari JVC, Teac, Maxell, dan sejumlah produk lainnya.

Hermawan memutuskan fokus pada pekerjaan barunya. Profesi sebagai guru matematika dan fisika itu dilepas. Di PT Panggung, karir Hermawan terus menanjak sehingga menjadi general manager. Kendati hanya dua tahun berkiprah di PT Panggung, Hermawan berhasil meletakkan dasar distribusi yang kukuh.

”Saya menghilangkan agen-agen PT Panggung dan membentuk jalur distribusi sendiri,” kenangnya. “Cara itu dalam jangka pendek memang menyurutkan angka penjualan. Namun, ke depannya sangat bagus untuk kenaikan pendapatan,” tambahnya.

Kinerja Hermawan kemudian menarik perhatian Poetra Sampoerna, pemilik PT HM Sampoerna sebelum dijual ke PT Philip Morris sekarang. Dia menempati jabatan sebagai direktur distribusi. Dengan status itu, Hermawan merasa laju evolusi pemikiran dan kemampuan marketing-nya bertambah drastis.

Maklum saja, dia mendapat partner bagus dalam berdiskusi marketing. Yakni, sang bos sendiri, Poetra Sampoerna. ”Pernah selama lima jam, saya dan Pak Poetra berdiskusi soal marketing,” ungkapnya.

Dari perbincangan-perbincangan intens seperti itu, Hermawan mendapat satu “mantra marketing” yang terus diingatnya hingga kini. Yakni, it is better to be a little bit different than to be a little bit better (lebih baik menjadi sedikit berbeda daripada menjadi sedikit lebih baik). Dari sinilah, Hermawan mengembangkan konsep tiga kredo utama. Yakni PDB (positioning, diferentiation, branding).

Pada 1990, Hermawan keluar dari PT HM Sampoerna dan kemudian mendirikan MarkPlus, sebuah perusahaan konsultan marketing berikut riset dan training. Setelah itu, Hermawan “terbang” semakin tinggi. Sejumlah konsep baru ditelurkan. Klien-klien kakap pun tertarik menggunakan jasanya untuk me-renew strategi marketing. Di antaranya United Tractor (Komatsu), Indofood, Semen Gresik Group, dan Goodyear Indonesia.

Seiring dengan itu, namanya mulai dikenal di luar negeri. Tonggak pertamanya dicatatkan ketika dia ditahbiskan sebagai presiden marketing Asia Pasifik. Saat itu, dia bertemu dengan Philip Kotler, bapak marketing modern, dalam sebuah konferensi marketing di Moskow pada 1998.

Setelah menulis buku bersama Philip, namanya terus berkibar. Dua tahun lalu, dia dianggap sebagai 50 guru yang mengubah konsep marketing di era modern ini. “Rasanya tak terbayangkan, namun semuanya bisa terjadi,” jawabnya ketika ditanya bagaimana perasaannya ketika menoleh kepada dirinya 30 tahun lalu.

Apa ada impian yang masih ingin diwujudkan saat ini? Hermawan menggelengkan kepala. “Rasanya, saya sudah mendapatkan semua. Saya hanya ingin enjoy dan tetap mewarnai dunia marketing yang sangat saya cintai ini,” tuturnya. (ano/ayi)

Dari http://www.jawapos.co.id/evergreen/index.php?act=detail&nid=37706

Oleh: malioboronline | November 18, 2008

AYODHYA CITRA ( Investasi Properti )


INILAH.COM,

Jakarta – Inflasi dan harga bahan bangunan boleh tinggi, para investor di bisnis properti tidak keder. Pasar properti tetap menggiurkan. Imbal hasilnya pun jauh lebih tinggi ketimbang negara lain di Asia.

M Dindien Ridhotulloh

Perusahaan konsultan properti Global Property Guide baru-baru ini melaporkan, imbal hasil kotor tahunan dari sewa apartemen di Indonesia mencapai 13,4%. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia.

Managing Director PT Colliers International Indonesia Michael Broomell sempat memperkirakan imbal hasil (yield) investasi properti di Indonesia mencapai 8%. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dari sektor properti di Singapura yang hanya 2-3%.

Rata-rata hasil survei menunjukkan, imbal hasil investasi di bidang properti berkisar 7-14% per tahun, bergantung pada jenis properti. Pendapatan investasi pada gedung perkantoran diperkirakan 7% dan untuk pusat perbelanjaan 13%.

Investasi pada dua jenis properti itu biasanya dilakukan investor institusi yang memiliki dana besar. Apartemen memberikan tingkat imbal hasil 13-14% per tahun. Artinya, investasi di sektor ini juga tetap menggiurkan.

Memang, hasil survei BI menyebutkan bahwa indeks harga properti triwulan I 2008 relatif sama dengan triwulan sebelumnya, yakni 1,04%. Tapi, secara tahunan, indeks harga meningkat lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya, yakni dari 4,16% menjadi 4,68%.

Khusus untuk wilayah Jabotabek, kenaikan harga rumah secara triwulanan maupun tahunan melambat dibandingkan triwulan IV 2007 (0,17%).

Hasil survei BI juga menemukan fakta bahwa pada triwulan IV 2007 kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah. Kenaikan harga tertinggi terjadi pada tipe rumah menengah, yakni 1,52%.

Berdasarkan wilayah, Bandung membukukan peningkatan harga rumah tertinggi, yakni 2,44%, terutama pada rumah tipe menengah (5,21%). Harga rumah di Jabodetabek pada periode yang sama hanya naik 1,54%, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (1,15%).

Banyak cara untuk berinvestasi di bisnis properti. Bisa memulainya dengan membeli rumah tinggal, ruko, membangun rumah sewaan, bangunan komersial lain atau tanah kosong.

Dari semua pilihan itu, membeli dan menjual rumah sewaan lebih baik dipilih bagi mereka yang baru akan mulai berinvestasi di bisnis properti. Berikutnya, sedikit-sedikit menabung dari hasil sewa untuk diinvestasikan kembali.

Yang paling sering dilakukan investor pemula di sektor properti adalah seperti dilakoni orang-orang Betawi, yakni membuat rumah sewaan alias rumah kos. Cara ini dinilai lebih mudah dengan risiko lebih kecil.

Dengan menjadi induk semang, pemilik rumah kos bisa mengontrol sendiri anggaran sekaligus mengestimasi berapa cost dan return-nya.

Investasi yang lebih canggih adalah membangun hunian kemudian menjualnya lagi. Kontrol sendiri, kemudian menjualnya juga sendiri.

Penting sekali memahami mengapa properti sering jadi pilihan utama untuk mengembangkan harta kekayaan. Tapi, bisnis jenis ini bukan tanpa risiko. Seperti investasi lainnya, bisnis kontrakan juga punya kendala. Misalnya, para penyewa telat bayar, pindah tanpa memberitahu, bangunan rusak.

Jenis investasi properti lainnya adalah membeli hunian atau apartemen untuk kemudian disewakan atau dijual kembali saat harga tinggi. Untuk tipe investasi seperti ini, ada baiknya mengikuti saran Adler Haymans Manurung, pengamat investasi dan pasar modal.

“Jangan lupa investasi properti, lakukan diversifikasi di beberapa tempat, dan variasikan bentuk propertinya. Lalu, ikuti perkembangan wilayah/lokasinya dan ketahui pula kondisi legalitas surat-surat propertinya,” papar Adler.

Salah satu hal paling menarik dari investasi di properti adalah bahwa sistemnya dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk menggunakan uang pihak lain untuk berinvestasi.

Investasi properti yang lebih canggih adalah membangun hunian skala besar. Banyak contoh sukses di bisnis jenis ini. Salah satunya dicatat Ciputra dan Mochtar Riyadi.
Jadi, segera tentukan pilihan berinvestasi di sektor properti. Anda tinggal menunggu pundi-pundi keuntungan bertambah dengan pelan tapi pasti.

Imbal hasil investasi properti di Indonesia mencapai 8%

Dari:Investasi Property

Imbal hasil (yield) sektor properti di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 8%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dari sektor properti di Singapura yang hanya sebesar 2% hingga 3%.

Michael Broomell, Managing Director PT Colliers International Indonesia, mengatakan tingginya selisih imbal hasil tersebut membuat investasi sektor properti di Indonesia, jauh lebih menarik dibandingkan dengan negara lain.

Dia yakin krisis sekuritisasi kredit pemilikan rumah berkualitas rendah (subprime mortgage) di Amerika Serikat (AS) tidak berdampak negatif bagi sektor properti di Indonesia.

“Tidak terlalu negatif [dampak krisis subprime bagi Indonesia], karena sebagian besar investor yang datang ke Indonesia dan negara di Asia Pasifik lainnya adalah investor dari Timur Tengah. Mereka punya banyak uang,” ujar Broomell kepada Bisnis kemarin.

Namun, imbal hasil yang tinggi tersebut belum memperhitungkan besaran pajak yang harus dibayar pada setiap transaksi jual-beli properti, yang bisa mencapai hingga 25% dari nilai transaksi.

Selain itu, masalah pembatasan kepemilikan properti bagi warga negara asing juga menjadi masalah utama yang membuat investasi pada sektor properti di Indonesia masih kurang menarik.

“Masalahnya adalah pada kepemilikan. Orang asing masih belum diperbolehkan memiliki properti di Indonesia,” tambah Broomell.

Dia juga yakin Indonesia akan mampu mempertahankan stabilitas politik, bahkan saat pemilihan umum (Pemilu) berlangsung pada 2009, sehingga permintaan di sektor properti diperkirakan terus meningkat.

Krisis subprime mortgage di AS bahkan memberikan dampak positif pada sektor properti di Indonesia, karena penurunan suku bunga bank sentral AS akan turut menyeret penurunan suku bunga di Indonesia.

Penurunan suku bunga tersebut akan berdampak pada penurunan suku bunga kredit kepemilikan properti, sehingga permintaan di sektor tersebut diyakini akan terus meningkat.

Pasar sewa

Dalam kesempatan itu, Broomell juga menyebutkan permintaan untuk ruang perkantoran sewa di Indonesia pada tahun ini akan meningkat, jauh melebihi permintaan untuk kepemilikan (strata title).

Para investor Timur Tengah saat ini aktif melakukan investasi pada berbagai sektor di negara-negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Kegiatan bisnis mereka itu membutuhkan ruang-ruang perkantoran sewa, yang akan meningkatkan permintaan di sektor itu.

“Investor dari Timur Tengah, Hong Kong, Singapura, dan AS juga banyak melakukan ekspansi di kawasan Asia Pasifik. Mereka berinvestasi di beragam sektor, yang pastinya membutuhkan ruang perkantoran,” kata Broomell yakin.

Colliers International Indonesia, perusahaan konsultan properti yang merupakan bagian dari Colliers International, juga melihat peluang bisnis dalam penyediaan rumah sewa untuk para ekspatriat di Indonesia akan meningkat.

“Kami [Colliers] nantinya akan menambah fokus kami yaitu ekspatriat housing [perumahan untuk ekspatriat],” kata Manager Marketing & Communications Colliers International Indonesia Karina Dam, yang turut mendampingi Broomell.

Ekspansi perusahaan-perusahaan multinasional di Indonesia dipastikan akan berpengaruh pada peningkatan kebutuhan rumah sewa bagi para ekspatriat yang bekerja di sini.

Oleh Yeni H. Simanjuntak
Bisnis Indonesia
Diposkan oleh citrakedaton di 17:59 0 komentar
Label:Rumah Jogja RUMAH DI JOGJAKARTA
Prospek Properti di Tengah Krisis

Indro Bagus SU Dari detikfinnance.com

Prospek bisnis properti di tengah krisis ternyata tidak seburuk yang diperkirakan banyak orang. Justru dengan adanya krisis akan menimbulkan titik keseimbangan baru pada sektor properti.

“Koreksi pasti ada, tapi justru ini menjadi ujian bagi pemain properti. Nantinya akan ada titik keseimbangan baru,” ujar Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), Hiramsyah S Thaib usai acara peletakan batu pertama kompleks apartemen The Wave di kantor pemasaran Rasuna Epicentrum, Jl Rasuna Said, Jakarta, Sabtu (8/11/2008).

“Pengaruh krisis ekonomi terhadap tingkat demand dan supply memang sudah terasa, termasuk di kita (ELTY),” ungkap Hiramsyah.

Kendati demikian, Hiramsyah memandang positif dampak krisis terhadap bisnis di sektor properti secara keseluruhan. Menurutnya, justru dengan adanya krisis konsumen akan lebih selektif dalam memilih properti yang akan dibeli.

“Artinya, hanya pengembang properti yang kuat secara fundamental yang dapat bertahan dalam krisis ini,” ujar Hiramsyah.

Ia menambahkan, dari pihak pengembang adanya krisis akan mengingatkan para pengembang bahwa dalam persaingan dibutuhkan fundamental yang kuat.

“Ini akan menguji masing-masing pengembang. Mereka akan bertanya pada diri mereka sendiri apakah fundamental saya sudah kuat,” terang Hiramsyah.

Di sisi lain, Hiramsyah mengatakan, perbankan yang kini lebih selektif dalam mengucurkan kreditnya akan membuktikan pengembang properti mana yang oleh bank dinilai kuat secara fundamental.

“Jadi penilaian kuat tidaknya fundamental juga dilakukan oleh pihak luar yaitu perbankan,” terang Hiramsyah.

Menurut Hiramsyah, tindakan tersebut akan memunculkan pengetatan likuiditas di sektor properti. Namun ia mengatakan itu bukanlah suatu hal yang negatif.

“Karena bank lebih selektif dalam kreditnya, akhirnya banyak pengembang yang akan terseleksi. Dan pengembang yang tidak mendapat pendanaan bank akan menunda proyek-proyeknya. Ini suatu hal positif bagi pengembang yang dapat bertahan dengan dananya,” papar Hiramsyah.

Mengapa demikian? Menurut Hiramsyah, dengan banyak tertundanya proyek-proyek properti dari pengembang-pengembang yang kesulitan dana berarti telah membalikkan keadaan dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Sebelumnya bisnis properti itu kan sangat ramai sehingga kita perkirakan akan terjadi kelebihan supply. Dengan banyaknya proyek properti yang tertunda, keadaannya berbalik, yang terjadi malah kelebihan permintaan. Ini suatu keuntungan bagi pengembang yang dapat bertahan,” jelas Hiramsyah.

Dari segi biaya produksi, banyaknya pengembang yang menunda proyeknya justru membawa dampak positif yaitu menurunnya harga-harga bahan baku.

“Akibat banyak yang menunda proyek propertinya, permintaan bahan baku properti menurun tajam, sehingga harga-harga menjadi turun. Ini memberikan keuntungan bagi pengembang yang tetap melanjutkan proyeknya,” ulas Hiramsyah.

Menurutnya, harga-harga bahan baku properti seperti baja sudah turun cukup besar selama krisis. Begitupun dengan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Kendati banyak memberikan dampak positif, Hiramsyah mengakui bahwa dalam proyek-proyek properti ELTY dampak negatif krisis sudah terasa.

“Kalau di landed residential seperti di Bogor Nirwana, kenaikan suku bunga cukup terasa dampaknya, tapi tidak terlalu besar,” ulas Hiramsyah.

Sementara di properti apartemen, konsumen cenderung lebih banyak berpikir sebelum membeli apartemen.

“Untuk apartemen, pengaruhnya terutama pada konsumen yang mau beli baru. Mereka cenderung wait and see,” ujar Hiramsyah.

Meski demikian, ia optimistis proyek-proyek properti tidak akan terkoreksi tajam. Menurut Hiramsyah, fundamental perseroan yang kuat akan mendorong konsumen melihat properti perseroan sebagai pilihan bagus.

“Kami optimistis konsumen akan melihat proyek-proyek kami sebagai pilihan utama. Sebab fundamental kami cukup kuat di tengah krisis. Pembiayaan tidak ada masalah. Pengerjaan proyek juga sesuai target semua. Jadi tidak ada masalah,” ujarnya.(dro/ir)

Spesifikasi Ayodhya Citra

Pekerjaan Pasangan Pondasi : Batu kali, spesi 1: 3:10
(Kedalaman 70 cm, lebar tapak 70 cm)
Dinding : Batu bata, plester, Spesi 1:3:10
Pekerjaan Beton Sloff : 15/20, besi 4-d8, begel d6-20
Kolom praktis : 15/15, besi 4-d8, begel d6-20
Ring balk : 15/20, besi 4-d8, begel d6-20
Pekerjaan Atap Rangka atap :
Nok, Jurai : 8/12 kruing
Gording, Murplat : 6/12 kruing
Usuk : 5/7 kruing
Reng : 2/3 kruing
Genteng : Genteng beton flat merek Arcon, atau setara
Lisplank : 2/20 Bangkirai, finishing mowillex akasia warna kayu
Talang : Seng Bjls-30, 60 cm
Pekerjaan Kayu Kusen : 6/12 jati
Daun pintu :
pintu utama : panil jati,
pintu KM/WC : teakwood, ram jati, lapis aluwood
Daun jendela : ram jati 8 cm, kaca gelap 5 mm
Pekerjaan Plafond Lantai 1 : gypsum, list gypsum, rangka meranti
Plafond luar dan KM : kalsiboard, rangka meranti
Pekerjaan Keramik Lantai ruang : Hercules 40×40 tipe Corona Beige atau setara
Lantai teras : Hercules 40×40 tipe Lariza Brown atau setara
Lantai KM : Roman Gress 20/20 tipe Granit abu muda, atau setara
Dinding KM : Roman 20/25 tipe Lavenia Light Blue/Brown, atau setara
List KM : Listello 8/20 Delta Blue/Brown, atau setara
Sanitair dan Dapur Kloset duduk : Ina warna putih
Kitchen zink : merk Royal dengan Grill tipe SB-01, atau setara
Kran, kran bebek : merk Tahoo, atau setara
Bak mandi : lapis keramik
Tempat sabun : merk Data warna putih
Pekerjaan Cat dan Melamine Cat dinding dalam : Catylac
Cat dinding luar : Catylac
Cat plafond : Maxilite
Finishing kusen : melamine
Pekerjaan Plumbing Saluran air bersih : pipa PVC d ½” Wavin
Saluran air kotor : pipa PVC d 3” Wavin
Saluran air tinja : pipa PVC d 4” Wavin
Saluran air hujan : pipa PVC d 4” Wavin
Pompa air : panasonik GA 125
Tandon air : Penguin 500 lt
Pekerjan Listrik Daya : 1300 Watt
Fitting : merk Broco
Saklar : merk Broco
Stop kontak : merk Broco
Batu Alam Batu alam : setara batu lempeng
Diposkan oleh citrakedaton di 23:13 0 komentar
Label:Rumah Jogja Rumah, Yogyakarta

Testimoni Penghuni

Bpk. Abem: Ayodhya Citra C-9

Membeli rumah, baik di Yogyakarta maupun membeli rumah dilain tempat ibarat mencari pasangan hidup, tidak bisa sembarangan, dan membutuhkan banyak pertimbangan, terutama dari segi harga dan luas bangunan yang dibutuhkan. Karenanya,lebih dari dua tahun saya mencari rumah diberbagai lokasi Perumahan di Yogyakarta, dengan sejumlah kriteria sesuai keinginan saya dan keluarga serta mempertimbangkan masukan dari banyak pihak.

Saya dan istri memilih Perumahan Ayodhya Citra, pertama karena berdasar pengamatan kami atas sejumlah Perumahan yang dibangun oleh PT. Citra Kedaton di Yogyakarta terbukti menjadi hunian yang “hidup”, ditempati oleh pembelinya, dan dari waktu kewaktu terlihat semakin semarak, dengan kwalitas bangunan yang terjaga kebersihan maupun keawetan fisik bangunannya. Hal ini tampak dari Perumahan Citra Graha Yogyakarta, Perumahan Griya Citra Yogyakarta, dan lain-lain ( Red: Perumahan lain yang dibangun oleh PT. Citra kedaton adalah: Perumahan Citra Kedaton 1 Yogyakarta, Perumahan Citra Kedaton 2 Yogyakarta, Perumahan Tiara Citra 1 Yogyakarta, Perumahan Tiara Citra 2 Yogyakarta, Perumahan Citra Nirwana Yogyakarta, Perumahan Ayodhya Citra 1 Yogyakarta dan Perumahan Ayodhya Citra 2 Yogyakarta).

Kedua, dibanding Perumahan di Yogyakarta lainnya, Perumahan Ayodhya Citra ini lokasinya terbilang cukup dekat dengan rumah orang tua, sehingga saya cukup mengenal lingkungan Perumahan Ayodhya Citra. Jarak menuju tempat kerja saya maupun istri juga tak terlampau jauh.

Ketiga, setelah melihat sejumlah perumahan di Yogyakarta yang sebagian besar hanya terdiri dari belasan unit rumah, pilihan saya jatuh ke Perumahan Ayodhya Citra yang terdiri dari lebih seratus unit rumah dalam satu kawasan perumahan,dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial berupa jalan lingkungan, taman bermain yang tertata, dan lain-lain, sehingga akan menjadi tempat yang cukup representative untuk bersosialisasi maupun bermain bagi anak-anak saya.Ibarat makan direstoran, sebisa mungkin dengan harga yang terjangkau kita bias makan sepuasnya dengan banyak pilihan menu. ( Red: Perumahan Ayodhya Citra 1 dan Perumahan Ayodhya Citra 2 Yogyakarta dikelilingi oleh sejumlah Universitas ternama di kota Yogyakarta, sangat dekat dengan Sekolah Internasional Budi Mulia, cukup dekat dengan berbagai pusat perbelanjaan seperti Makro, Carefour, Ambarukmo Plaza Yogyakarta, bahkan jaraknya kurang dari sepuluh menit dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, serta tak terlalu jauh dari Rumah Sakit Jogjakarta International Hospital.)

Berikutnya, saya memilih Perumahan Ayodhya Citra 1 Yogyakarta, karena dari sisi legalitas, selama ini takpernah terdengar adanya keluhan dari konsumen PT. Citra Kedaton Yogyakarta atas legalitas dari Perumahan yang dibangun oleh PT. Citra Kedaton Yogyakarta. Hal ini penting dipertimbangkan karena menyangkut masalah hukum dan berkaitan dengan keamanan atas nilai investasi yang kita keluarkan.

Terakhir, berkaitan dengan alasan pertama diatas, saya memilih perumahan Ayodhya Citra karena sebagaimana Perumahan yang dibangun oleh PT. Citra Kedaton lainnya, saya melihat perkembangan penjualan kavling di Ayodhya Citra yang sejak awal saya amati cukup cepat, setiap kali saya memasuki kawasan Ayodhya Citra selalu ada penambahan unit yang dibangun, sehingga saya yakin bahwa Perumahan Ayodhya Citra memiliki kwalitas yang bagus sehingga bisa terjual dengan cepat, dan saya yakin Perumahan Ayodhya Citra Yogyakarta akan menjadi hunian yang berkembang(tanpa khawatir bahwa jika tingal di Perumahan Ayodhya Citra Yogyakarta akan menjadi penghuni tanpa tetangga).

PROSPEK PERMINTAAN PROPERTI RESIDENTIAL

STUDI KASUS DIY
Oleh: Tjahjo Oetomo ( Pemimpin Bank Indonesia Yogyakarta ).

Syarat minimal masyarakat sejahtera bila kebutuhanpokok berupa Pangan, Sandang, dan Papan telah terpenuhi. Pada jaman sekarang Pangan dan Sandang relatif mudah ditemui, sedangkan pemenuhan papan masih banyak kendala. Kendala yang paling dominan adalah besarnya biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh papan/rumah, apalagi di Yogyakarta
Mahalnya rumah di DIY tidak terlepas oleh tingginya permintaan yang juga mendoron tingginya harga bahan baku. Permintaan yang tinggi ini sudah tampak terlihat ketika kecendrungan masyarakat DIY, khususnya pendatang, yang lebih memilih rumah modern (rumah bertembok) disbanding rumah tradisional (yang terbuat dari kayu atau bambu).

Permintaan Properti
Peningkatan Indeks Harga Properti Residensial ( IHPR ) searah dengan peningkatan Produk Domestik Bruto ( PDB ) DIY dan ada beberapa pengaruh musiman yang memberi indeks yang cukup signifikan khususnya di triwulan I kecuali pada tahun 2007
( sebagai akibat dari gempa bumi 27 Mei 2006 ). Peningkatan indeks yang cukup tinggi tersebut umumnya disebabkan adanya peningkatan permintaan menjelang tahun ajaran baru yang umumnya jatuh pada triwulan II.

Berdasar survey Bank Indonesia ( 2004 ), beberapa latar belakang mengapa mereka tertarik untuk memiliki tempat tinggal di Yogyakarta, diantaranya adalah karakteristik kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan, dan hal ini adalah factor utama yang menentukan dinamika bisnis property residensial ( rumah tinggal ). Selain itu factor ketenangan dan kenyamanan juga penting bagi masyarakat yang bekerja diluar kota dalam memutuskan untuk mempunyai tempat tinggal di Yogyakarta. Hal ini dapat dibuktikan bahwa ternyata Yogyakarta juga mendapat predikat baru yaitu kota lansia.
Banyak orang yang memutuskan menghabiskan sisa waktu hidup dengan menetap diYogyakarta.

Faktor lainnya yang berkaitan dengan perkembangan bisnis property residensial adalah luas propinsi DIY yang relative terbatas jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang tinggal di wilayah tersebut. Dengan kondisi ini, apabila terdapat peningkatan permintaan terhadap perumahan, para pengembang akan terdorong memperluas usahanya dengan cara membangun proyek-proyek erumahan di lahan-lahan baru yang jumlahnya terbatas disekitar kota Yogyakarta sehingga harga tanah terdongkrak naik. Hal tersebut yang menyebabkan mengapa naiknya permintaan perumahan yang berlangsung terus menerus langsung direspon oleh peningkatan harga dan menjadikan rata-rata level harga rumah di DIY hamper menyamai level harga rumah dikota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang.
Sementara itu, segmen pasar yang cukup menjadi prioritasd pengembang adalah segmen rumah ukuran kecil dengan segmen harga sederhana dan menengah, terbukti dengan pergerakan indeksnya rata-rata diatas IHPR.
* Disampaikan pada musda REI DIY Juli 2008

Menengah:
Tipe rumah diklasifikasikan menurut luas bangunan, yaitu:
- Rumah tipe kecil/ sederhana ( luas bangunan s.d 36 m2 )
- Rumah tipe menengah ( luas bangunan > 36 m2 s.d 70 m2 )

Target market diklasifikasikan menurut harga jual, yaitu :
- Rumah sangat sederhana ( harga < Rp 50.000.000,- )
- Rumah sederhana ( harga Rp 50.000.000,- s.d Rp 100.000.000,- )
- Rumah menengah ( harga > Rp100.000.000,- s.d Rp 250.000.000,- )
- Rumah menengah atas ( harga > 250.000.000,- s.d Rp 500.000.000,- )
- Rumah mewah ( harga > Rp 500.000.000,- )

Breaking News!!

Berlokasi dikawasan yang berkembang, dengan tingkat hunian yang telah mencapai lebih dari 50%, serta berbagai Fasum dan Fasos yang lengkap menjadikan Ayodhya Citra sebagai Cluster terbaik bagi anda.

Jarak menuju Bandara Internasional Adi Soetjipto Jogjakarta yang bisa ditempuh hanya dalam 7 menit perjalanan tentu sangat menguntungkan bagi anda yang memiliki mobilitas tinggi antar kota maupun antar negara.

Berbagai Universitas ternama, seperti UPN Veteran Jogjakarta, UII, Universitas Sanatha Dharma, INSTIPER, serta sekolah Internasional Budi Mulia yang dapat ditempuh dalam waktu kurang dari 10 menit dari Ayodhya Citra, juga menjadi nilai tambah bagi anda para dosen maupun bagi putra putri anda.

Ayodhya Citra sangat dekat dengan Stadion Internasional Maguwoharjo, Sleman maupun berbagai pusat perbelanjaan Modern seperti Makro, Carefour, Ambarukmo Plaza.

Ayodhya Citra memiliki akses cepat menuju Jogja International Hospital, sebuah sarana kesehatan berkelas Internasional.

Dengan berbagai kondisi diatas, dengan tulus kami mohon maaf karena telah membuat anda kesulitan dalam menemukan alasan untuk tidak segera memiliki hunian di Ayodhya Citra.

RUMAH DI JOGJAKARTA

Mencari Rumah di Jogjakarta, memiliki rumah di Jogjakarta, tinggal dirumah sendiri di Jogjakarta, adakah hali ini mengisi benak anda saat ini?

PT.Citra Kedaton menyediakan Hunian terbaik untuk anda yang sedang mencari Rumah di Jogjakarta. Jika anda mencari rumah di Jogjakarta, Rumah yang anda cari bisas ditemukan di kawasan hunian Ayodhya Citra Jogjakarta, yang dikembangkan oleh PT. Citra Kedaton.

PT. Citra Kedaton yang berada dikota Jogjakarta berusaha memberikan hunian terbaik untuk anda yang mencari rumah diJogjakarta. Dari sekian banyak pilihan Rumah di Jogjakarta, Rumah yang dibangun oleh PT. Citra Kedaton di Jogjakarta merupakan alternative terbaik bagi anda, sekali lagi bagi anda yang sedang mencari Rumah di Jogjakarta, Perumahan yang dibangun oleh PT. Citra Kedaton di Jogjakarta adalah alternative terbaik karena semua Perumahan yang telah dibangun oleh PT. Citra Kedaton selalu berkembang menjadi kawasan hunian yang hidup, dan menarik minat publik untuk menghuni kawasan disekitar Perumahan yang dibangun oleh PT. Citra Kedaton.

Perumahan di Jogjakarta memiliki potensi yang sangat bagus untuk dijadikan sarana investasi jangka panjang. Hal ini karena didorong oleh predikat Kota Jogjakarta sebagai Kota Pelajar, Jogjakarta sebagai Kota Budaya, dan Jogjakarta sebagai Kota Pariwisata, padahal wilayah disekitar Kota Jogjakarta tidak terlalu luas sehingga harga tanah dan bangunan sangat cepat meningkat.

Dengan kondisi diatas, jika anda mencari Rumah di Jogjakarta sebagai hunian, secara tidak langsung anda juga menanam investasi untuk masa depan, dengan yield atau peningkatan nilai laba yang lebih tinggi dibandingkan jika anda membeli Rumah atau tanah didaerah lain.

Saat ini juga berkembang trend menjadikan Kota Jogjakarta sebagai tempat menikmati hari tua oleh para pensiunan, mengingat dinamika hidup masyarakat Jogjakarta yang tidak terlalu tergesa gesa dalam menjalankan rutinitas, dan kehidupan sosial antar warga yang memang sangat kondusif untuk menikmati masa tua, sehingga banyak sekali anak-anak yang membelikan Rumah di Jogjakarta sebagai hadiah untuk Orang Tua mereka.

Rumah di Jogjakarta identik dengan Rumah yang dibangun oleh PT. Citra Kedaton Jogjakarta.

Jadikan Jogjakarta sebagai rumah anda, karena Jogjakarta sangat senang menjadikan anda sebagai penghuninya.

Rumah di Jogjakarta adalah hunian nyaman sekaligus investasi untuk masa depan anda.

Memiliki Rumah di Jogjakarta adalah impian banyak orang, karena Jogjakarta begitu Berhati Nyaman.

Rumahku di Jogjakarta

Di Jogjakarta Rumahku berada

Aku punya Rumah di Jogjakarta

Salah satu rumahku ada di Jogjakarta

Aku suka tinggal dirumahku yang ada di Jogjakarta

Silahkan mampir di Rumahku jika anda pergi ke Jogjakarta

Type 80 (Hook)

A. LB / LT : 80 / 170 ( Kavling E1 )

Harga: Rp 367.500.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 147.000.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 220.500.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 7.536.249,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 5.130.594,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 3.423.704,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 2.936.399,- / bulan.

B. LB / LT : 80 / 170 Sudut / Hook ( Kavling D1 dan E1 )

Harga: Rp 385.000.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 1154.000.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 231.000.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 7.895.118,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 5.374.908,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 3.586.737,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 3.076.227,- / bulan.

KETERANGAN:

1. Tanda jadi Rp 2.500.000,- ( APABILA BATAL, uang tidak dapat dikembalikan ).

2. Uang Muka pertama paling lambat 2 minggu setelah tanda jadi.

3. Kelebihan atau kekurangan tanah akan diperhitungkan sesuai luasan di sertifikat.

4. Harga belum termasuk BBN dan BPHTB.

5. Bunga Bank dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

6. Asumsi bunga saat ini adalah 14.5 %

7. Harga berlaku per 1 Oktober 2008 dan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dulu.

KETERANGAN LEBIH LANJUT BISA MENGHUBUNGI BAGIAN PENJUALAN:

Telp: 0274 683 9 686

HP : 08386 8282 59

Email : masjusan@gmail.com /citrakedaton@gmail.com

.

Type 70 (Hook)

A. LB / LT : 70 / 140 Sudut / Hook ( Kavling D13, F1, F2, F14, G1, dan G13 )

Harga: Rp 320.000.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 128.000.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 192.000.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 6.562.176,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 4.467.456,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 2.981.184,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 2.2.556.864,- / bulan.

B. LB / LT : 70 / 150 Sudut / Hook ( Kavling D2, D14, dan E8 )

Harga: Rp 329.000.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 131.600.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 197.400.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 6.746.737- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 4.593.103,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 3.065.030,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 2.628.776,- / bulan.

KETERANGAN:

1. Tanda jadi Rp 2.500.000,- ( APABILA BATAL, uang tidak dapat dikembalikan ).

2. Uang Muka pertama paling lambat 2 minggu setelah tanda jadi.

3. Kelebihan atau kekurangan tanah akan diperhitungkan sesuai luasan di sertifikat.

4. Harga belum termasuk BBN dan BPHTB.

5. Bunga Bank dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

6. Asumsi bunga saat ini adalah 14.5 %

7. Harga berlaku per 1 Oktober 2008 dan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dulu.

KETERANGAN LEBIH LANJUT BISA MENGHUBUNGI BAGIAN PENJUALAN:

Telp: 0274 683 9 686

HP : 08386 8282 59

Email : masjusan@gmail.com /citrakedaton@gmail.com

Type 70

LB / LT : 70 / 140 ( Kavling D5, D7, D9, dan D11 )

Harga: Rp 304.500.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 121.800.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 182.700.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 6.244.321,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 4.251.064,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 2.836.783,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 2.433.016,- / bulan.

KETERANGAN:

1. Tanda jadi Rp 2.500.000,- ( APABILA BATAL, uang tidak dapat dikembalikan ).

2. Uang Muka pertama paling lambat 2 minggu setelah tanda jadi.

3. Kelebihan atau kekurangan tanah akan diperhitungkan sesuai luasan di sertifikat.

4. Harga belum termasuk BBN dan BPHTB.

5. Bunga Bank dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

6. Asumsi bunga saat ini adalah 14.5 %

7. Harga berlaku per 1 Oktober 2008 dan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dulu.

KETERANGAN LEBIH LANJUT BISA MENGHUBUNGI BAGIAN PENJUALAN:

Telp: 0274 683 9 686

HP : 08386 8282 59

Email : masjusan@gmail.com /citrakedaton@gmail.com

.

Type 65

LB / LT : 65 / 130 ( Kavling D4, D6, D8, D10, D12, F4, F6, F8, F10, F12 )

Harga: Rp 282.500.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 113.000.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 169.500.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 5.793.171,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 3.943.926,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 2.631.827,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 2.257.232,- / bulan.

KETERANGAN:

1. Tanda jadi Rp 2.500.000,- ( APABILA BATAL, uang tidak dapat dikembalikan ).

2. Uang Muka pertama paling lambat 2 minggu setelah tanda jadi.

3. Kelebihan atau kekurangan tanah akan diperhitungkan sesuai luasan di sertifikat.

4. Harga belum termasuk BBN dan BPHTB.

5. Bunga Bank dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

6. Asumsi bunga saat ini adalah 14.5 %

7. Harga berlaku per 1 Oktober 2008 dan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dulu.

KETERANGAN LEBIH LANJUT BISA MENGHUBUNGI BAGIAN PENJUALAN:

Telp: 0274 683 9 686

HP : 08386 8282 59

Email : masjusan@gmail.com /citrakedaton@gmail.com

.

Type 60

A. LB / LT : 60 / 120 ( Kavling E9, E11, E13, dan E15 )

Harga: Rp 262.000.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 104.800.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 157.200.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 5.372.782,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 3.657.730,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 2.440.844,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 2.093.432,- / bulan.

B. LB / LT : 60 / 125 ( Kavling F3, F5, F7, F9, F11, F13, F15, G3, G5, G7, G9, dan G11)

Harga: Rp 267.000.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 106.800.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 160.200.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 5.475.316,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 3.727.534,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 2.487.425,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 2.133.383,- / bulan.

KETERANGAN:

1. Tanda jadi Rp 2.500.000,- ( APABILA BATAL, uang tidak dapat dikembalikan ).

2. Uang Muka pertama paling lambat 2 minggu setelah tanda jadi.

3. Kelebihan atau kekurangan tanah akan diperhitungkan sesuai luasan di sertifikat.

4. Harga belum termasuk BBN dan BPHTB.

5. Bunga Bank dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

6. Asumsi bunga saat ini adalah 14.5 %

7. Harga berlaku per 1 Oktober 2008 dan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dulu.

KETERANGAN LEBIH LANJUT BISA MENGHUBUNGI BAGIAN PENJUALAN:

Telp: 0274 683 9 686

HP : 008386 8282 59
Email : masjusan@gmail.com /citrakedaton@gmail.com
.

Type 55

A. LB / LT : 55 / 115 ( Kavling E2, E3, E4, E5, E6, dan E7 )

Harga: Rp 246.000.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 98.400.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 147.600.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 5.044.673,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 3.434.357,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 2.291.785,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 1.1.965.589,- / bulan.

KETERANGAN:

1. Tanda jadi Rp 2.500.000,- ( APABILA BATAL, uang tidak dapat dikembalikan ).

2. Uang Muka pertama paling lambat 2 minggu setelah tanda jadi.

3. Kelebihan atau kekurangan tanah akan diperhitungkan sesuai luasan di sertifikat.

4. Harga belum termasuk BBN dan BPHTB.

5. Bunga Bank dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

6. Asumsi bunga saat ini adalah 14.5 %

7. Harga berlaku per 1 Oktober 2008 dan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dulu.

KETERANGAN LEBIH LANJUT BISA MENGHUBUNGI BAGIAN PENJUALAN:

Telp: 0274 683 9 686

HP : 08386 8282 59

Email : masjusan@gmail.com /citrakedaton@gmail.com

Type 50

A. LB / LT : 50 / 106 ( Kavling E10, E12, DAN E14)

Harga: Rp 225.000.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 90.000.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 135.000.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 4.614.030,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 3.141.180,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 2.096.145,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 1.797.795,- / bulan.

B. LB / LT : 50 / 112 ( Kavling G2, G4, G6, G8, G10, G12, G14, G16, dan G18 )

Harga: Rp 230.750.000,-

Skema Pembayaran :

1. Uang Muka ( 40% ) = Rp 92.300.000,-

2. Sisa Angsuran = Rp 138.450.000,-

KPR 3 Tahun, angsuran : Rp 4.731.944,- / bulan.

KPR 5 Tahun, angsuran : Rp 3.221.455,- / bulan.

KPR 10 Tahun, angsuran : Rp 2.149.713,- / bulan.

KPR 15 Tahun, angsuran : Rp 1.797.795,- / bulan.

KETERANGAN:

1. Tanda jadi Rp 2.500.000,- ( APABILA BATAL, uang tidak dapat dikembalikan ).

2. Uang Muka pertama paling lambat 2 minggu setelah tanda jadi.

3. Kelebihan atau kekurangan tanah akan diperhitungkan sesuai luasan di sertifikat.

4. Harga belum termasuk BBN dan BPHTB.

5. Bunga Bank dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

6. Asumsi bunga saat ini adalah 14.5 %

7. Harga berlaku per 1 Oktober 2008 dan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dulu.

KETERANGAN LEBIH LANJUT BISA MENGHUBUNGI BAGIAN PENJUALAN:

Telp: 0274 683 9 686

HP : 08386 8282 59

Email : masjusan@gmail.com /citrakedaton@gmail.com

.

Fasilitas AYODHYA CITRA

1. Taman
Taman adalah ruang terbuka yang bisa dipergunakan untuk kegiatan bersama. Besaran taman mengacu pada standar yang telah ditetapkan oleh Dinas Kimpraswilhub.
Jenis vegetasi dan elemen lain menyesuaikan dengan standar harga perumahan tersebut.
Pembuatan taman sudah harus dilaksanakan selambatnya sebelum masa serah terima kawasan kepada warga dan pemerintah kabupaten. Pengelolaan dan perawatan pasca serah terima bukan menjadi tanggung jawab pengembang.

2. Penerangan
Penerangan adalah titik lampu yang berada di luar kavling atau pada tiang jaringan listrik kawasan atau pada tempat-tempat lain yang diperkirakan perlu oleh pengembang yang ditujukan untuk penerangan jalan umum dan kawasan.
Jenis, tipe, dan jumlah titik lampu mengacu pada ijin yang diberikan PLN dan standar kelas perumahan.
Pengadaan penerangan jalan harus dilaksanakan selambatnya sebelum serah terima kawasan.

3. Pengelolaan satpam
Pengelolaan satpam adalah penyediaan pos satpam, rekruitmen anggota satpam, penyediaan segala perlengkapan standar, dan operasional selama 3 bulan pertama.
Pelaksanaan satpam dapat dimulai bila minimal 30% dari jumlah rumah sudah terisi atau berpenghuni, jumlah anggota satpam pada saat mulai operasional menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Pengelolaan satpam dan operasionalnya setelah 3 bulan menjadi tanggung jawab warga penghuni, termasuk menanggung gaji satpam dari iuran warga per kavling. Pengembang hanya membantu menambah dana operasional berdasar jumlah kavling yang masih tersisa dikalikan iuran per kavling atau sampai setara biaya operasional standar bulanan.

4. Pengelolaan sampah
Pengelolaan sampah adalah membantu penghuni dalam pembuangan sampah harian rumah tangga. Pengembang akan melibatkan warga sekitar perumahan sebagai petugas pemungut sampah. Iuran bulanan sampah tergantung pada negosiasi dengan petugas dan jumlah kavling yang terhuni (semakin banyak jumlah kavling yang terhuni semakin ringan iuran) menjadi tanggung jawab penghuni.

5. Jalan lingkungan
Jalan lingkungan adalah jalan yang berada dalam lingkungan kawasan perumahan.
Dimensi dan luas jalan mengacu pada standar Dinas Kimpraswilhub dengan jenis material penutup berupa paving block, atau aspal penetrasi, atau aspal sand sheet. Jalan lingkungan sudah harus dilaksanakan sejak masa konstruksi dan diserahterimakan kepada pemkab dan warga dalam kondisi baik menurut standar kualitas PT.Citra Kedaton.

6. Pengadaan jaringan telepon fix line dan PDAM
Pengadaan jaringan telepon fix line dan PDAM bukan merupakan fasilitas standar yang disediakan pengembang kecuali telah disebutkan dalam brosur penawaran perumahan. Pengembang dapat membantu pengadaannya bilamana secara kolektif warga menghendakinya dan secara teknis dimungkinkan. Seluruh biaya pengadaan jaringan tersebut bukan menjadi tanggung jawab pengembang.

7. Fasilitas pemakaman
PT. Citra Kedaton telah memiliki fasilitas Tanah Pemakaman seluas kurang lebih 350 m2 yang terletak di Dusun Temanggal II Desa Purwomartani Kecamatan Kalasan.
Fasilitas ini dapat dipergunakan oleh seluruh konsumen bilamana diperlukan dengan pemberitahuan kepada pengembang tanpa biaya tambahan.

8. Sosial masyarakat
Penghuni baru di perumahan diwajibkan untuk melapor kepada ketua RT setempat, dan seyogyanya sampai kepada Ketua RW dan Kepala Dusun untuk dicatat sebagai penduduk sementara.
Penghuni disarankan juga mengikuti norma sosial yang berlaku di kawasan tersebut demi terciptanya hubungan sosial yang harmonis.
Setelah seluruh atau sebagian besar kavling terhuni, konsumen disarankan untuk menunjuk seorang sebagai wakil warga untuk mempermudah komunikasi baik dengan pemerintah desa maupun dengan pengembang.
Dengan dibantu pengembang warga penghuni perumahan dapat mengajukan diri ke pemerintah desa setempat untuk membuat RT/RW mandiri yang terpisah (standar 1 RT minimal sekitar 30 kavling/KK).

9. Fasilitas lain
Fasilitas lain yang termasuk dalam penawaran perumahan, bilamana ada, dan belum tercantum disini akan dijelaskan kemudian.

AYODHYA CITRA
Keunggulan kompetitif citra kedaton
Karakteristik sektor properti di Sleman ternyata sangat spesifik dan unik. Faktor utamanya adalah keterbatasan lahan, dan tidak seimbangnya antara permintaan dan ketersediaan lahan menyebabkan harga dan melambung, tingginya permintaan antara lain disebabkan oleh citra jogja-sleman yang positif –aman dan stabil- dan juga maraknya pembangunan yang berpotensi menjadi pemicu aktivitas ekonomi di kawasan sekitarnya (kampus, pusat perbelanjaan, hypermarket, ruko dan lain-lain). Dengan kondisi demikian tidak dimungkinkan bagi sektor properti untuk dapat melakukan pembebasan tanah dalam skala besar.

Citra kedaton, pengembang sejak 2001, memiliki jawaban atas permasalahan keterbatasan lahan tersebut tanpa mengurangi spesifikasi, dan standarisasi suatu lingkungan perumahan, jawaban tersebut selalu diterjemahkan ke dalam perumahan yang dikembangkan oleh citra kedaton dan selalu mendapat respon positif dari konsumen yang semakin kritis, adapun keunggulan tersebut adalah:

Mengapa harus di citra kedaton?

Pemilihan lokasi
Citra kedaton selalu memilih lokasi yang sesuai dengan acuan tata ruang yang diperuntukkan bagi kawasan permukiman. Lokasi pilihan tersebut juga harus mempunyai prospek ke depan yang menguntungkan dari sisi nilai investasi, dan aksesibel

Kelompok cluster mandiri
Perumahan yang dikembangkan citra kedaton selalu menerapkan sistem cluster yang mandiri, artinya cluster hunian tersebut dapat mengelola secara swadaya dan mandiri lingkungan perumahannya. Misalnya: pengelolaan satpam, sampah, arisan dapat berlangsung dengan baik. Agar dapat mandiri maka jumlah unit dalam satu cluster perumahan yang dikembangkan citra kedaton minimal setingkat wilayah 1 RT (rukun tetangga) dan atau kelipatannya

Orientasi dan sosialisasi
Citra kedaton berpandangan bahwa lingkungan perumahan bukan semata lingkungan fisik melainkan juga lingkungan sosial, konsep tersebut diterjemahkan ke dalam Bentuk site dan sirkulasi, orientasi bangunan, dan penyedian fasum berupa playground. Bentuk site yang merangsang interaksi antar hunian yaitu orientasi hunian yang saling berhadapan, sirkulasi model loop atau kuldesak dengan penempatan open space/playground pada join-join sirkulasi –membuat bangkitan kegiatan komunal-.

Kualitas produk: Desain, servis personalitas
stylish and qualified. Desain terkini dan kualitas bangunan yang bermutu selalu menjadi fokus utama produk properti citra kedaton.

Keunggulan tersebut ditransformasikan pada produk terkini yaitu lingkungan hunian asri ayodhya citra

Lokasi Maguwoharjo Depok Sleman, terletak pada kawasan paling progresif perkembangannya. Dekat dengan stadion internasional sleman, lingkungan kampus, dan hanya 7 menit dari bandara internasional Adisucipto

Luas area yang telah dikembangkan sekitar 2,2 ha dari total luas 4 ha (proyeksi)

Jumlah unit yang telah dikembangkan 112 unit berbentuk kavling siap bangun

Tipe bangunan adalah 1 lantai (kecuali permintaan dari konsumen) mulai tipe bangunan 50 m2(luas tanah 110 m2) sampai dengan tipe 80m2(luas tanah 190 m2)

Status kepemilikan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dan bisa ditingkatkan menjadi Hak Milik (SHM)

Harga sudak termasuk IMB (Ijin Mendirikan Bangunan), harga belum termasuk BPHTB, bea balik nama dan notaris

Perubahan dan penambahan luasan, lay out, desain bangunan diperkenankan sejauh selaras dengan garis acuan desain kawasan ayodhya citra

PT. CITRA KEDATON SELALU MEMILIH LOKASI YANG SESUAI DENGAN ACUAN TATA RUANG YANG DIPERUNTUKKAN BAGI KAWASAN PERMUKIMAN. LOKASI PILIHAN TERSEBUT SELALU MEMPUNYAI PROSPEK KEDEPAN YANG MENGUNTUNGKAN DARI SISI NILAI INVESTASI, DAN AKSESIBLE. LEGALITAS DAN LAYANAN PURNA JUAL DARI MARKETING PT. CITRA KEDATON AKAN MEMBERI KETENANGAN KEPADA ANDA DALAM BERINVESTASI.

BAGIAN PEMASARAN:
Jl. Affandi ( Gejayan ) 18 Jogjakarta 55281
Telp / Fax : ( 0274 ) 83 9686
SMS : 08386 8282 59
Email : masjusan@gmail.com /citrakedaton@gmail.com

Oleh: malioboronline | Oktober 10, 2008

"Sabda" Dahlan Iskan

[ Jum’at, 14 November 2008 ]
Dahlan Iskan : Mau Jatuh Cepat-Cepat atau Pelan-Pelan? (1)
Fondasi Memang Rapuh, Bukan Konfiden yang Jatuh

Baru satu hari pulang dari Tiongkok, Dahlan Iskan kemarin sudah berangkat ke Amerika untuk ikut rombongan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menghadiri pertemuan puncak 20 kepala negara di Washington DC. Pertemuan ini untuk mencari solusi mengatasi krisis keuangan global saat ini. Berikut catatannya sebelum berangkat:

SETELAH banyak kiat dijalankan di mana-mana dan hasilnya juga masih belum bisa meredakan krisis, para penganut aliran pasar bebas mulai unjuk gigi lagi: seharusnya negara jangan turun tangan. Biarkan pasar terjun bebas. Biarkan banyak bank kolaps. Biarkan banyak perusahaan bangkrut. Biarkan pasar modal mencapai titik terendahnya. Terjun bebas secara cepat lebih baik karena kita bisa segera tahu di mana titik terendahnya. Dari situ baru mulai dipikirkan lagi bagaimana bangun kembali. Daripada jatuh pelan-pelan, lama tapi akhirnya jatuh juga!

Pendapat itu didasarkan kenyataan bahwa meski berbagai negara sudah melakukan bailout dalam jumlah yang belum pernah terjadi dalam sejarah, toh kesulitan tidak juga teratasi. Indeks harga saham masih terus merosot, termasuk setelah Amerika Serikat memilih presiden baru sekali pun. Ini berarti krisis sekarang ini memang benar-benar krisis yang terjadi akibat fondasi ekonomi yang rapuh. Bukan hanya karena rasa konfiden yang jatuh.

Memang banyak negara sudah menginjeksikan uang rakyat ke berbagai lembaga keuangan. AS menggunakan dana USD 700 miliar yang berasal dari pembayar pajak alias rakyat. Dan, karena negara itu sedang mengalami defisit terbesar dalam sejarahnya, pada dasarnya dana itu juga berasal dari pinjaman. Negara sudah meminjam uang begitu besar untuk menyelamatkan lembaga keuangan. Hasilnya belum kelihatan jelas. Bahkan, kini menjalar ke sektor riil. Pabrik mobil di sana sudah pula minta disuntik dana negara. Kalau permintaan ini dipenuhi, bagaimana industri baja yang juga tinggal menunggu giliran saja untuk mengalami hal yang sama? Lalu bagaimana dengan industri kaca? Industri cat? Dan seterusnya.

Dulu, pikiran untuk menginjeksikan uang negara ke lembaga keuangan tersebut didasari pemikiran agar kepanikan masyarakat bisa segera reda. Kepanikan itu dipicu oleh pernyataan bangkrutnya Lehman Brothers, perusahaan keuangan terbesar di dunia. Masyarakat panik karena “Lehman yang begitu raksasa saja bangkrut, bagaimana dengan yang lain?” Ini, kecil-kecilan, mirip dengan yang dialami Indonesia ketika krisis 1997 lalu. Saat itu, secara teori ekonomi (IMF) 16 bank swasta nasional harus ditutup. Jangan diinjeksi. Maka ditutuplah bank-bank itu. Ternyata, “teori” tersebut meleset. Akibat penutupan itu, kepanikan memuncak. Pertanyaan semua orang waktu itu: besok bank yang mana lagi yang ditutup? Lusa yang mana lagi?

Begitulah seterusnya hingga akhirnya toh pemerintah harus memberikan jaminan kepada kalangan perbankan. Jaminan itulah yang kemudian ternyata juga salah: pemilik uang di bank itu ternyata para pemilik bank itu sendiri. Akibatnya, pemerintah harus menginjeksi para penabung yang pada dasarnya pemilik bank itu sendiri.

Pemerintah AS juga berpikiran bangkrutnya Lehman Brothers adalah pelajaran berharga. Kebangkrutan itu ternyata disusul dengan kepanikan dan dampaknya berupa turunnya rasa percaya diri yang luar biasa. Harga saham terus merosot. Kehilangan uang di pasar modal ternyata lebih besar dari nilai yang harus dibayar seandainya Lehman Brothers diinjeksi uang negara.

Memang setelah injeksi diberikan oleh pemerintah, rasa percaya diri mulai pulih. Tapi, rasa percaya diri saja ternyata tidak cukup. Toh, harga saham terus merosot. Perusahaan yang terancam bangkrut terus membesar. Kini mulai dibahas: sampai berapa besar injeksi harus diberikan? Apakah kalau kebijaksanaan injeksi itu diteruskan, adakah dana yang cukup? Apa kriteria yang bisa diinjeksi dan yang tidak? Bahkan, jangan-jangan, semua itu seperti “sumur tanpa dasar”. Siapa yang bisa menimbunnya? Maka mulailah dibicarakan perlunya diberlakukan undang-undang darutat. Berarti Amerika memang sangat gawat.

Kalau saja UU darurat itu benar-benar diwujudkan, kita juga belum tahu skenario seperti apa yang akan dilakukan: biarkan terus bebas dengan cepat, atau terjun pelan-pelan tapi akhirnya jatuh juga, atau ada revolusi baru di AS?

Memang segera diadakan pertemuan puncak para kepala negara di Washington minggu ini untuk membicarakan itu. Tapi, dari pengalaman-pengalaman yang lalu, tidak mungkin juga pertemuan dua hari itu bisa mencari solusi, apalagi sampai bisa menentukan roadmap (program nyata yang bisa dijalankan dengan jadwal yang jelas dan ketat). Kawasan Eropa akan menyelamatkan benuanya sendiri. Amerika Utara juga begitu. Bagaimana Asia?

Tiongkok sudah punya program besar. Meski masih digolongkan negara miskin, Tiongkok uangnya banyak. Cadangan devisanya USD 2 triliun. Terbesar di dunia. Indonesia hanya punya USD 50 miliar. Tidak bisa diapa-apakan. Karena itu, Indonesia harus mengandalkan kekuatan sendiri. Tidak bisa berharap sama sekali dari bantuan siapa pun. Termasuk bantuan dari Barat dan Tiongkok. Masing-masing punya kesulitannya sendiri.

Tiongkok bisa mengalami PHK sampai 30 juta orang. Sepertiga pabrik bajanya sudah tutup. Tapi, selama 10 hari saya keliling Changsha, Wuhan, Hangzhou, Shaoxing, dan Tianjin minggu lalu, saya lihat belum ada kepanikan yang nyata. Apalagi, Tiongkok sudah menetapkan bagaimana agar 30 juta orang itu dapat pekerjaan. Caranya: pemerintah akan mengalokasikan dana pembangunan infrastruktur USD 500 miliar. Ini sama dengan empat tahun APBN Indonesia! Itu baru dana daruratnya saja. Belum APBN-nya sendiri.

Kita, sebagaimana dikemukakan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan dengan pengusaha di Istana, Rabu sore, memang sudah menegaskan untuk tidak akan hanya mengandalkan turun tangannya asing. “Asing tetap kita cari terus, tapi kekuatan dalam negeri sendiri yang harus bangkit,” katanya.

Presiden menyebut adanya dana Rp 90 triliun yang sekarang menganggur di bank-bank milik provinsi. “Kita ini ngemis ke mana-mana untuk dapat uang satu-dua triliun. Bagaimana kita sendiri ternyata punya uang Rp 90 triliun yang dinganggurkan,” katanya.

Wapres Jusuf Kalla, yang selama presiden melawat ke berbagai negara ditugasi merumuskan dan menjalankan program krisis ini, diminta sudah menyelesaikan semua itu sebelum presiden pulang.

Tentu juga soal suku bunga kita sendiri. Akankah juga harus tidak turun? Sudah sebulan ini, setiap hari ada saja berita, negara mana yang menurunkan suku bunga. Menurunkan suku bunga memang menjadi salah satu senjata untuk menanggulangi akibat krisis global. Karena itu, gerakan menurunkan suku bunga dilakukan hampir semua negara. Kecuali Indonesia, tentunya, dan beberapa negara lagi.

Persentasi penurunannya pun tidak lagi 0,25 persen seperti kebiasaan di masa stabil, tapi ada yang langsung 0,5 persen. Bahkan, ada yang sampai 1,5 persen. Inggris menurunkan suku bunganya dari 4,5 persen langsung menjadi 3 persen. Suku bunga di AS, rata-rata kini tinggal 0,3 persen. Bandingkan dengan masa sebelum krisis yang sampai 2,5 persen.

Indonesia masih bertahan dengan suku bunga 9,5 persen karena, menurut pemerintah, untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Kalau suku bunga diturunkan, khawatir rupiah kurang menarik sehingga banyak orang yang mengalihkan uangnya ke dolar AS. Kalau itu sampai terjadi, akan semakin membuat nilai rupiah merosot. Inflasi (harga-harga barang) akan naik pula.

Begitu drastisnya penurunan suku bunga di banyak negara itu, sampai-sampai para ahli kini mulai membayangkan sebuah dunia dengan suku bunga 0 persen. Ini hampir sama artinya dengan dunia tanpa bank.

Jepang pernah membuktikan bagaimana hidup dengan bunga 0 persen selama enam tahun, sejak menjelang 2000. Sejak dua tahun lalu suku bunga di Jepang mulai naik menjadi 1 sampai 1,5 persen. Namun, karena terjadi krisis lagi, bunganya kembali diturunkan menjadi rata-rata tinggal 0,5 persen. Langkah me-0-kan suku bunga waktu itu sebagai cara untuk tetap membuat ekonomi berjalan, sambil menunggu sembuhnya dunia perbankan.

Meski membuat pertumbuhan ekonomi Jepang sangat lambat (hanya 1-2 persen per tahun selama lebih 10 tahun), langkah itu dianggap bisa menyelamatkan ekonomi negara. Terbukti Jepang tidak sampai ambruk. Statusnya sebagai negara terkaya kedua di dunia masih terjaga. Dalam kasus Jepang, pertumbuhan ekonomi 0 persen pun hanya berarti negara itu tetap kaya raya.

[ Sabtu, 18 Oktober 2008 ]
Dahlan Iskan: Definisi Uang yang Kian Panjang
Apakah uang? Menurut orang biasa seperti saya, definisi itu sederhana sekali: uang adalah alat pembayaran untuk membeli barang atau mendapatkan jasa. Titik.

Tapi, di mata orang-orang tertentu, definisi uang seperti itu tidak cukup. Harus ditambah sesuai dengan kepentingan masing-masing:

Bagi orang yang takut miskin, uang adalah juga alat untuk menumpuk kekayaan.

Bagi orang yang takut menjadi rakyat biasa, uang adalah alat untuk membeli jabatan.

Bagi orang yang punya utang, uang adalah alat untuk menunda pembayaran tagihan (lewat cek mundur).

Bagi yang takut neraka, uang adalah alat untuk mencari pahala (bayar zakat fitrah pun sudah tidak perlu lagi dengan beras).

Bagi yang takut masuk surga, uang adalah alat untuk menipu (misalnya dengan cek kosong).

Bagi orang miskin, uang adalah alat untuk memproduksi mimpi…(Dulu, saya pernah bermimpi diberi uang Rp 100 saat berlebaran ke rumah keluarga yang kaya, tapi uang itu direbut oleh kakak saya. Saya langsung menangis bukan hanya dalam mimpi, tapi sampai setelah bangun. Saya begitu ingin mimpi lagi tanpa diganggu kakak saya).

Yang juga penting, uang adalah sesuatu yang bisa hilang. Hanya cara hilangnya yang berbeda-beda dan cara menangisinya yang juga tidak sama.

Dan, dari pengalaman krisis keuangan ini, uang adalah bukan uang. Tepatnya, uang adalah sekadar angka-angka.

Buktinya, banyak sekali orang yang dalam krisis sekarang ini merasa kehilangan uang sampai puluhan miliar, tapi mereka tidak pernah mengalami kesulitan untuk membeli makan, pakaian, keperluan rumah, bepergian ke luar negeri, dan seterusnya. Makannya juga masih di restoran mahal, kalau bepergian masih tidur di hotel bintang lima, masih beli tas LV, dan masih ke Makau.

Menurut saya, orang-orang itu sebenarnya tidak kehilangan uang. Seandainya uang tersebut tidak hilang di mesin derivatif pun, toh tidak akan digunakan untuk membeli apa-apa. Tidak sekarang, bahkan tidak juga sepuluh tahun lagi. Bahkan sampai meninggal pun tidak akan pernah menggunakannya untuk membeli beras. Apakah yang demikian itu masih bisa disebut uang? Meski nilainya sampai puluhan miliar, rasanya nilai uang itu hanya sama dengan uang Rp 100 yang saya (mimpikan) terima dari keluarga kaya saat Lebaran itu: memilikinya hanya di angan-angan dan hilangnya juga di angan-angan.

Yang hilang itu bukan “uang” yang akan dibelikan rumah mewah yang bisa membuatnya lebih bergengsi -karena memang sudah punya rumah seperti itu, atau yang akan dibelikan jas tuxedo yang bisa membuatnya lebih ganteng -karena jasnya sudah berlemari-lemari, atau yang akan dibelikan kalung mutiara yang bisa membuatnya cantik -karena berliannya sudah tak terhingga. Maka, yang hilang itu sebenarnya bukan uang. Itu hanya angka-angka. Seperti saya dulu kehilangan angka-angka dalam rapot SD saya -karena tintanya luntur oleh tetesan air hujan yang bocor melalui genteng yang tidak dilapisi plafon.

Karena itu, orang yang tidak ikut main angka-angka derivatif tidak perlu ikut menangis. Kecuali menangis dalam angan-angan. Bekerjalah seperti biasa, carilah uang, dan kalau sudah dapat, belikan sesuatu yang diperlukan. Lalu, bekerja lagi. Bekerjalah sungguh-sungguh -karena tidak ada orang yang bekerja hanya di angan-angan. (*)

Dahlan Iskan : Mengapa Tidak Langsung Bangkit
Ketika sepak bola Inggris kalah di Piala Dunia tahun lalu, siapa yang harus disalahkan?

”Margaret Thatcher!” teriak seorang politikus di sana.

Lho, apa hubungan sepak bola dengan wanita yang sudah sangat tua itu? ”Waktu dia menjadi perdana menteri, subsidi susu untuk murid SD dikurangi. Akibatnya, tulang pemain Inggris banyak yang patah. Pemain sepak bola yang ikut Piala Dunia itu masih SD saat Thatcher menjadi perdana menteri,” tambahnya.

Lalu, siapa yang harus disalahkan atas terjadinya krisis keuangan di Amerika dan dunia saat ini? ”Al Khawarizmi!” Apa hubungan krisis zaman ini dengan tokoh yang hidup di zaman kuno itu?

Dialah yang menemukan logaritma dan matematika. Gara-gara ilmu matematika itulah, belakangan ini muncul satu jenis produk bank yang disebut derivatif. Tanpa ilmu matematika tidak mungkin ada derivatif (bahasa Mandarinnya…)

Lalu, ada yang bilang bahwa penyebab sebenarnya adalah orang Mesir atau Tiongkok. Orang Mesirlah yang menemukan matematika dengan geometrinya saat mendirikan piramida. Atau, barangkali karena orang Tiongkok menemukan sipoa yang menjadi awal ilmu matematika-aritmatika.

Bahkan, jangan-jangan yang salah adalah Al Jabr karena dialah yang menciptakan angka. Mungkin juga kita bisa menyalahkan Girolamo Cardano yang pada tahun 1500-an menemukan teori probabilitas (ilmu peluang).

Simaklah rumus yang saya sertakan di tulisan ini. Itulah wujudnya kalau ilmu matematika, geometri, aritmatika, statistik, dan probabilitas dimasak menjadi satu. Lalu ditambahi bumbu rakus. Kokinya para banker dan pelaku pasar modal. Maka, jadilah masakan siap saji yang disebut ”model”. Model itu lantas menjadi software. Lalu, dianggap sebagai ilmu kebenaran. Semua pemain derivatif menggunakan ”software model” derivatif itu untuk membenarkan hitungan bahwa uang yang hari itu nilainya 1 juta, lima tahun atau 10 tahun yang akan datang bisa menjadi, misalnya, 100 miliar.

Seandainya Anda punya uang Rp 1 juta, lalu ditawari untuk ikut derivatif, tentu Anda akan bertanya bagaimana caranya kok uang tersebut bisa tumbuh begitu menggiurkan? Lalu, operator derivatif akan menyodorkan rumus yang ruwet itu. Sanggupkah Anda memahami rumus itu? Yang menjelaskan sendiri bisa jadi tidak bisa benar-benar memahami. Mereka bisa langsung minta bantuan komputer untuk ”memprosesnya”: Rp 1 juta x model + enter. Keluarlah angka Rp 100 miliar di laptop. Masalahnya, semua pilihan model adalah yang asumsinya baik. Tidak pernah diciptakan model yang didasarkan asumsi sebaliknya. Maka, tidak ada Rp 1 juta x model + enter = hilang.

Meski semua pihak kini sudah tahu bahwa penyebab krisis ini adalah derivatif, akan diapakan ”binatang” itu masih belum ada pembicaraan. Melarangnya sama sekali kelihatannya sulit, mengingat sudah dibuktikan bahwa dengan derivatif hidup ini bisa lebih hidup. Tapi juga sudah dibuktikan bahwa derivatif membuat kekacauan.

Kalau kelak derivatif cukup dibatasi, akan menjadi perdebatan seru pembatasan itu sampai pada derivatif keturunan berapa. Sekarang ini derivatif mungkin sudah sampai 13 keturunan. Nah, apakah akan dibatasi sampai lima keturunan saja? Misalnya, swaps masih diperbolehkan. Tapi, anaknya, CDS (credit default swaps), mungkin sudah tidak boleh. Apalagi cucunya yang bernama credit default option, atau cicitnya yang disebut credit default swaption, atau cicit-cicit berikutnya lagi. Saya kira, sekian keturunan dari derivatif pasti akan dilarang.

Kalau kebangkitan hari pertama pasar modal Senin lalu tidak langsung diikuti oleh kebangkitan lebih lanjut di hari-hari berikutnya, antara lain karena soal yang mendasari krisis itu sendiri belum diselesaikan. Semua memang masih sibuk melakukan PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan). Yang penting pasar modal dan perbankan selamat dulu. Terutama perbankan. Usaha ini kelihatannya berhasil. Namun, untuk bisa memulihkan ke keadaan semula, tentu masih harus menunggu diselesaikannya pengaturan derivatif.

Siapa yang mengatur derivatif itu?

Selama ini tidak ada!

Bisnis yang menyangkut USD 600 triliun ini (bandingkan dengan GDP Amerika yang hanya USD 15 triliun) diatur oleh pelaku derivatif itu sendiri. Mereka membentuk persatuan pelaku derivatif. Namanya Asosiasi Swaps dan Derivatif Internasional. Asosiasi itulah yang mengatur segala sesuatu tentang bisnis ini. Mulai aturannya hingga format-format kontraknya. Tidak ada pemerintah mana pun yang mampu mencampurinya.

Padahal, korban derivatif ini luar biasa banyaknya. Mulai perorangan, perusahaan, hingga lembaga keuangan sendiri. Termasuk yang menjadi berita besar awal tahun ini: Societe General rugi USD 7,2 miliar juga oleh derivatif. Bahkan, beberapa tahun lalu sebuah pemda di Amerika, kabupaten terkenal di California bernama Orange County, juga menyatakan diri bankrut sebagai korban derivatif. Di sana pemda memang diperbolehkan mengeluarkan obligasi untuk pembangunan daerahnya. Tapi, dalam kasus Orange County ini, dana daerah dimainkan di derivatif. Kalau berhasil sih, 30 persen APBD-nya akan datang dari hasil derivatif itu. Tapi, bendaharawan kota itu salah hitung. Lalu, kota itu pun dinyatakan bangkrut.

Siapa yang kira-kira akan ambil inisiatif untuk mengatur semua itu?

Pemerintah AS? Bukan urusannya. Bank Dunia? Bukan bidangnya. Bank sentral masing-masing negara? Juga bukan tugasnya.

Para penemu logaritma, geometri, aritmatika, Al Khawarizmi, Al Jabr, Girolamo Cardano, barangkali, harus bangkit dulu dari kubur mereka untuk merundingkannya. (*)

[ Jum’at, 10 Oktober 2008 ]
Saatnya Indonesia Nyalip di Tikungan
Oleh Dahlan Iskan

Tepat sekali langkah pemerintah Indonesia menghentikan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kemarin. Terlambat sedikit, kita bisa lebih kacau. Inilah saatnya kita mendahulukan nasib bangsa sendiri. Kita tahu, perusahaan asing lagi perlu uang untuk menutup lubang mereka yang dalam di negeri masing-masing. Karena itu, mereka perlu uang cepat. Salah satu caranya adalah menjual apa saja yang dimiliki, termasuk yang di Indonesia. Dan, yang paling cepat bisa dijual adalah saham di bursa.

Saking banyaknya pihak yang mau menjual saham itulah yang mengakibatkan harga saham jatuh 10 persen kemarin. Mereka berani menjual murah, menjual rugi, asal bisa segera mendapat uang cash. Sebenarnya sekaranglah saatnya membeli kembali saham Indosat, Telkomsel, atau apa pun, tapi kita belum cukup kaya untuk melakukan itu.

Penutupan sementara bursa itu juga penting untuk mengamankan perusahaan-perusahaan nasional kita. Yakni, perusahaan yang terlibat utang besar di luar negeri yang jaminannya berupa saham. Misalnya, Bumi Resources dan enam perusahaan milik Bakrie Group lainnya. Termasuk kebun sawitnya yang besar. Kalau harga sahamnya terus merosot, nilai jaminan utangnya langsung tidak cukup. Dalam keadaan seperti ini sangat mungkin terjadi hostile take over! Sangat bisa terjadi, tiba-tiba saja tambang batu baranya yang begitu besar disita dan menjadi milik asing. Demikian juga perkebunan sawitnya.

Karena itu, bursa tidak perlu cepat-cepat dibuka kembali. Apalagi, kalau itu hanya karena tekanan asing. Harus dihitung benar untung ruginya bagi kepentingan nasional. Memang Bumi Resources adalah milik Bakrie, tapi batu baranya dari bumi Indonesia (Kaltim). Kita juga berkepentingan mengusahakan Bakrie agar tetap jaya -antara lain agar bisa menuntaskan kasus Lapindo di Sidoarjo. Apalagi, Bakrie pernah jadi contoh perusahaan yang hancur oleh banyaknya utang saat krisis moneter 1997 yang tiba-tiba mampu bangkit menjadi orang terkaya di Indonesia. Jangan sampai kini menjadi korban hostile take over asing akibat tidak mampu membayar utang! Nilai saham Bakrie kini memang tinggal 20 persennya. Sangat mudah bagi asing untuk mengambil secara hostile!

Kini negara yang paling mempertuhankan pasar bebas pun hanya berpikir menyelamatkan negara masing-masing. Apalagi, negara yang masih miskin seperti kita. Saya cukup bangga atas ketegasan dan kecepatan pemerintah mengambil langkah ini. Penduduk kita cukup besar untuk bisa menjadi pasar kita sendiri. Kita masih bisa menanam jagung!

Sampai kemarin memang baru Rusia dan Indonesia yang mengambil langkah menghentikan perdagangan saham. Islandia (Iceland) sudah lebih dulu membuat keputusan mem-peg mata uangnya ke dolar karena terjun bebas. Kemarin sore WIB, Inggris membuat keputusan yang lebih konsepsional daripada Amerika. Delapan bank raksasa direkapitalisasi Rp 700 triliun dengan syarat-syarat tertentu. Misalnya, harus menjaga kelangsungan fungsi utama bank, termasuk memberi pinjaman kepada pengusaha yang bergerak di sektor riil. Di dalamnya termasuk bank-bank kelas dunia, seperti HSBC, RBS, dan Standard Chartered. Inggris yang dulu pelopor swastanisasi, kini di arah sebaliknya.

“Ini jalan keluar yang tujuannya memulihkan kepercayaan, sekaligus memperkukuh sistem perbankan,” ujar Perdana Menteri Gordon Brown.

Menurut Brown, dalam mengatasi kesulitan yang begitu serius, jalan keluarnya memang harus komprehensif. Juga harus kreatif dan tidak sekadar dogmatis. Menaikkan suku bunga seperti yang dilakukan Bank Indonesia, menurut saya, termasuk yang hanya dogmatis dan kurang kreatif. Yakni, satu dogma bahwa untuk menahan orang agar tidak ramai-ramai menukarkan uang ke dolar haruslah memberi rangsangan kepada pemegang rupiah. Ya, menaikkan suku bunga tadi. Tapi, dampak yang lain sangat berat. Untung naiknya hanya kecil (25 basis poin).

Kita punya batu bara bermiliar ton dan hasil bumi lain. Ini yang harus diamankan lewat kebijaksanaan nasional. Mestinya, masih lebih baik nasib kita yang memiliki hasil bumi tersebut daripada negara yang hanya punya kertas saham atau commercial paper dengan nilai yang hancur saat ini.

Kita memang tidak punya cadangan saham di mana-mana. Karena itu, jangan pula yang masih kita punya itu hilang. Saatnya nasionalisme dipertahankan. Sambil lihat-lihat perkembangan dunia. Kalau kita pintar, kita bisa menyalip di tikungan!(*)

[ Sabtu, 11 Oktober 2008 ]
Cito! Cepat Selamatkan Dulu Bank!
Oleh Dahlan Iskan

Tujuh negara industri terbesar dunia berkumpul hari ini untuk mencari jalan keluar dari krisis moneter yang gawat ini. Tapi, para ahli sangat pesimistis mereka bisa menemukan jalan itu. Sudah begitu banyak masing-masing pemerintah menciptakan paket penyelamatan. Semuanya tidak bisa meredam kemerosotan pasar modal.

Bagi kita di Indonesia, harapan terbesar adalah jangan sampai unsur-unsur di dalam pemerintah berjalan sendiri-sendiri. Apalagi bertengkar. Kita semua tahu bahwa jumlah ahli ekonomi kita bukan hanya sangat banyak, tapi juga aliran ekonomi mereka berbeda-beda. Mulai dari yang beraliran konservatif sampai yang populis. Belum lagi yang menganut aliran sempalan. Masing-masing punya dasar pemikiran sendiri, merasa benar sendiri, dan saling bersikukuh mempertahankannya.

Dalam suasana krisis seperti ini, satu komando sangat diperlukan. Sampai hari ini, saya cukup bangga karena tidak terjadi perbedaan pendapat di antara elite pemerintah yang sampai mencuat ke media. Memang ada desas-desus tentang siapa yang menginginkan Bank Indonesia harus segera intervensi (untuk menstabilkan rupiah) dan siapa yang menentang. Tapi, tidak menjadi perang di bawah permukaan -apalagi di atasnya. Politisi juga cukup dewasa untuk tidak menjadikan masalah krisis sebagai bahan mencari popularitas. Sebagian mungkin memang karena tidak paham akar persoalannya yang rumit, sebagian karena rakyat juga sudah sangat dewasa. Politisi yang memanfaatkan krisis ini untuk popularitasnya justru akan dicela rakyat.

Saya amati rakyat di semua negara memang sangat kompak untuk membela negara masing-masing, lepas apakah pemerintahnya dari partai yang mereka dukung atau tidak.

***

Hari ini, pemerintah pertama-tama harus kompak dalam menyelamatkan sistem perbankan nasional kita. Nasabah dan rakyat harus ditenangkan dengan policy yang jelas dan tegas. Yang terpenting, antara lain, adalah memberikan penjaminan deposito dan tabungan masyarakat.

Saya percaya penjaminan itu tidak akan berbuntut panjang seperti saat krisis dulu. Sebab, perbankan nasional kita sekarang sudah sangat dewasa. Semua negara melakukan langkah ini meski ahli ekonomi yang menganut aliran konservatif tidak akan setuju. Teoretis, sebenarnya tidak perlu ada rush. Tapi, ketidakpercayaan masyarakat pada sistem keuangan hari-hari ini bisa membuat bank yang lagi bersaing saling menyebarkan isu rush. Yang mula-mula hanya isu bisa terjadi sungguhan. Ini sangat membahayakan sistem perbankan kita.

Kalau sistem perbankan ambruk, ekonomi akan runtuh. Rakyat akan sengsara.

Nomor satukan penyelamatan perbankan nasional kita. Gunakan semua dana penjaminan yang selama ini dikumpulkan oleh bank di rekening khusus penjaminan itu. Maksimumkan upaya ini, mumpung ini hari Sabtu. Umumkan pagi ini juga bahwa semua deposito dan tabungan dijamin pemerintah. Jangan terlambat! Kita lagi bersaing dengan kecepatan beredarnya SMS dan telepon seluler.

***

Ini persoalan dunia yang kompleksnya bukan main. Perusahaan yang terlibat derivatif lagi bertumbangan. Cobalah kita bayangkan perusahaan yang enam bulan lalu membeli minyak dengan harga USD 130 per barel. Tentu, hari ini, perusahaan tersebut belum menerima minyaknya karena dua hal. Pertama, harga itu memang untuk penyerahan minyak enam bulan kemudian. Kedua, tujuan pembeli minyak itu memang bukan untuk memiliki minyak, tapi hanya untuk menjual “hak” atas minyak itu saja. Yang membeli “hak” itu pun hanya ingin menjual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Yang sudah dapat harga lebih tinggi itu pun masih ingin menjual lagi ke harga yang lebih tinggi. Begitu seterusnya. Minyak yang mungkin berjumlah 1 juta barel itu seolah-olah sudah menjadi 10 juta barel di pasaran.

Triliunan dolar derivatif yang menyangkut minyak ini akan memakan korban luar biasa besar. Sudah akan mengalahkan nilai kredit macet subprime mortgage yang mengawali krisis ini.

Seminggu yang lalu, harga minyak tinggal 100 dolar per barel. Anda bayangkan berapa besar kerugian perusahaan yang membeli minyak dengan harga 130 dolar itu. Membelinya pasti dengan kredit. Kini, pasti kreditnya macet. Kredit yang macet bukan sebesar harga 1 juta barel, mungkin sampai lebih 10 juta barel. Sebab, minyak tersebut sudah diderivatifkan: future, hedging, option, equity swap, dan seterusnya.

Bahkan, dengan harga minyak kemarin menjadi serendah 80 dolar/barel, tingkat kemacetan pasti kian luas lagi. Maka, kinilah saatnya harga minyak akan menjadi normal sewajarnya lagi, sekitar USD 60 atau 70 dolar per barel. Kenapa harga ini normal? Sebab, biaya produksi minyak itu hanya sekitar 35 dolar per barel. Ditambah macam-macam, termasuk mahalnya investasi, jatuhnya sekitar 50 per barel. Maka, laba 30 persen adalah bisnis yang wajar. Tapi, dengan harga minyak 140 dolar per barel dan dengan biaya produksi yang tetap, bisnis ini bisa mencapai laba 300 persen. Kata “rakus” saya kira kurang kasar. Tentu ada yang murka.

Gambaran seperti itulah yang juga terjadi di bisnis jasa keuangan. Semua pedagang di Pintu Kecil Jakarta atau Kembang Jepun di Surabaya tentu tahu bahwa laba normal bisnis jasa itu sekitar 2,5 persen. Mengapa? Bisnis jasa itu tidak perlu modal besar dan risikonya kecil. Wajar kalau labanya lebih kecil. Yang penting volumenya sangat besar dan perputarannya cepat. Memang sesekali bisnis jasa bisa dapat laba 30 persen, tapi sifatnya harus hanya “sesekali”. Misalnya kalau pas lagi ada nasib baik. Satu atau dua hari. Setelah itu akan normal lagi ke laba 2,5 persen. Bahkan, kadang, laba 0,5 persen pun sering dijalani asal cash flow-nya baik.

Tapi, coba perhatikan perusahaan-perusahaan jasa keuangan dalam 10 tahun terakhir ini. Labanya bisa 30 persen. Bahkan bisa 60 persen! Ini juga rakus. Total sedunia, laba jasa keuangan ini menguasai 40 persen dari laba seluruh sektor usaha. Sedang sektor industri kurang dari 20 persen. Padahal, laba sektor industrilah yang seharusnya lebih tinggi. Sunnatullah-nya harus begitu. Sebab, di sektor industrilah orang harus benar-benar bekerja: tanam modal, membeli bahan baku, menjual bahan jadi, mengurus buruh, dan seterusnya. Benar-benar bekerja mengeluarkan keringat. Bagaimana bisa laba industri kalah oleh laba sektor jasa? Tentu ada yang murka.

Dunia secara alamiah akan kembali ke situasi 12 atau 15 tahun yang lalu. Bagi kita, 12 tahun yang lalu tidak terlalu jelek.

Asal sistem perbankan kita diselamatkan lebih dulu! Hari ini juga! Ibarat seorang dokter yang kedatangan pasien gawat, sang dokter akan langsung menulis di resepnya: cito! Bukan main urgennya. Seumpama di apotek ada antrean panjang pun, pemegang resep cito! harus langsung dilayani dulu. (*)

KALAU MINAT BACA LEBIH BANYAK TULISAN ATAU PEMIKIRAN DAHLAN ISKAN, KUNJUNGI SAJA URL BERIKUT INI ( dan masih banyak lagi URL lainnya ) :

http://gunawansutanto.net/?p=91

http://wordpress.com/tag/dahlan-iskan/

http://futuh.wordpress.com/2008/05/09/dahlan-iskan-bos-jawa-pos/

http://dahlaniskan.wordpress.com/2008/09/29/saya-harus-mudik-ke-mana-ya/

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.